Home Berita Tsunami Selat Sunda: Korban Tewas Capai Ratusan Jiwa, Penyeberangan Merak –...

Tsunami Selat Sunda: Korban Tewas Capai Ratusan Jiwa, Penyeberangan Merak – Bakauheni Tetap Normal

255
1
SHARE

JMOL. Penyeberangan Merak dan Bakauheni tetap berjalan normal paska terjadinya bencana Tsunami pada Sabtu (22/12) pukul 21:27 WIB. Operator penyeberangan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), menyatakan hingga Minggu (23/12), layanan ferry Roro di lintasan Merak-Bakauheni tetap beroperasi seperti biasa.

Selain mengoperasikan pelabuhan Merak dan Bakauheni, ASDP saat ini mengoperasikan 6 unit kapal Ferry Roro, dari 31 kapal yang beroperasi di Selat Sunda.

Baca juga: Akhir 2018, Ukuran Minimal Kapal Diberlakukan di Penyeberangan Selat Sunda

Gelombang Tsunami menerjang kawasan pantai barat Provinsi Banten dan Pantai Selatan Provinsi Lampung. Berdasarkan informasi dari BNPB, hingga 23 Desember 2018 malam, korban meninggal akibat tsunami berjumlah 222 orang, 843 orang luka-luka dan 28 orang dikabarkan hilang. Tsunami juga meluluh-lantakkan bangunan serta rumah warga di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lampung Selatan. Setidaknya 556 rumah rusak, 9 hotel rusak berat dan 60 warung hancur, dan 350 kapal-perahu rusak.

Pihak terkait kebencanaan seperti BMKG, Badan Geologi, dan BPPT masih menganalisis penyebab terjadinya tsunami. Diperkirakan, erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) telah menyebabkan salah satu bagian dari badan gunung tersebut longsor ke dalam kolom air sehingga memicu gelombang Tsunami.

Lihat: Video Simulasi Tsunami yang Disebabkan Longsoran Gunung Api

Wilayah Selat Sunda sudah beberapa kali dilanda tsunami. Berdasarkan katalog tsunami yang ditulis S.L. Soloviev dan Ch.N. Go pada tahun 1974, tsunami di Selat Sunda yang dipicu oleh 1gempa bumi (tahun 1722, 1852, dan 1958), erupsi atau aktivitas Gunung Krakatau (tahun 416, 1883, dan 1928), serta penyebab lain yang belum diketahui (tahun 1851, 1883 dan 1889).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan sebelum kejadian tsunami, erupsi GAK terjadi secara menerus sejak Juni 2018 dan berfluktuasi namun tidak ada peningkatan intensitas yang signifikan. Pada 22 Desember tercatat adanya erupsi pada pukul 21.03 WIB, 24 menit sebelum gelombang Tsunami mencapai pesisir Banten dan Lampung Selatan. Tsunami terjadi tanpa ada peringatan dini kepada masyarakat.

Hingga berita ini dirilis, erupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi dan menimbulkan kekhawatiran adanya potensi Tsunami susulan. BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada dan menjauhi pantai. [AF]

1 COMMENT

Comments are closed.