Home Artikel Transhipment Hub dan Prospeknya di Selat Malaka

Transhipment Hub dan Prospeknya di Selat Malaka

468
0
SHARE

Kalangan publik di Indonesia, pada sekitar dua tahun lalu, istilah “transhipment” lebih sering terdengar pada sektor perikanan, dibanding logistik dan kepelabuhanan. Transhipment adalah aktivitas yang berkaitan dengan pergerakan barang dan alat angkut. Mudahnya disebut alih muatan dari kapal yang satu ke kapal lainnya, baik secara langsung (ship-to-ship) maupun melalui tempat penyimpan sementara (temporary storage). Tulisan ini membahas soal transhipment di pelayaran (termasuk pelabuhan dan logistik), khususnya peti kemas. Selain itu, isu transhipment juga terkait rencana pemerintah membangun dua transhipment hub. Kuala Tanjung (Sumut) dan Bitung (Sulut).

Dalam dunia pelayaran, transhipment (kadang ditulis: transshipment) pada awalnya diterapkan untuk melayani pelabuhan/dermaga kecil yang karena keterbatasan teknis (draft dan infrastruktur), tidak dapat disandari atau melayani kapal yang berukuran besar. Sehingga, muatan (kargo) terlebih dahulu diangkut menggunakan kapal berukuran kecil untuk kemudian dialihkan ke kapal yang lebih besar.

Praktek ini sering ditemukan pada pengapalan batu bara di Indonesia. Pada ekspor Batu bara dari Kalimantan Timur misalnya, batu bara diangkut menggunakan tongkang dari dermaga sungai (yang memiliki draft rendah) untuk dipindahkan ke kapal yang lebih besar (umumnya Bulk Carrier kapasitas di atas 40 ribu ton) yang berlabuh di lepas pantai.

Dalam perkembangan selanjutnya, perdagangan global semakin meningkat dan meluas, mendorong tumbuhnya aktivitas pelayaran secara masif. Selain itu, rantai distribusi semakin luas dan kompleks. Transhipment kemudian menjadi strategi dari pihak pelayaran untuk mencapai efisiensi dan memperluas cakupan layanan. Pada tahun 2012 volume kargo (peti kemas) transhipment mencapai 28% dari seluruh arus peti kemas dunia, meningkat dua kali lipat dibanding 20 tahun yang lalu.

Asaf Ashar, seorang expert dan konsultan logistik dan transportasi asal Amerika Serikat, menyebutkan bahwa transhipment adalah revolusi ketiga dari pelayaran kontainer. Kelanjutan dari containerization dan intermodalsm sebagai revolusi yang pertama dan kedua. Asaf memperkenalkan revolusi ke-4 yang diberi nama Global Grid sebagai masa depan dunia pelayaran kontainer.

Tipologi dan Level Transhipment

Transhipment Hub mengandung pengertian sebuah tempat (dalam hal ini pelabuhan) yang menjadi pusat kegiatan transhipment. Transhipment hub dan transhipment port memiliki pengertian yang sama.

Gambar 1: Peta Transhipment Hub (Researchgate.net)

Posisi geografis menjadi aspek utama dalam menetapkan lokasi transhipment hub. Dari peta pelayaran utama dunia yang ada saat ini (gambar 1) terlihat transhipment hub umumnya berada di persimpangan rute pelayaran dan berada dekat choke point (selat atau kanal/terusan) internasional. Dapat juga berada di sepanjang rute utama pelayaran dunia: panama, selat Malaka, Giblatar dan terusan Suez. Transhipment hub memiliki simpangan maritim (jarak dari jalur pelayaran utama yang kecil dan menjadi pertemuan antara jalur pelayaran utara-selatan dan timur-barat. (Gambar 1)

Level sebuah transhipment hub/port berbandimg lurus dengan frekuensi aktivitas (incident) transhipment yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Atau perbandingan antara volume arus kargo transhipment dibanding total vokume arus kargo. Total arus kargo adalah gabungan antara kargo transhipment dan kargo gateway, yaitu kargo yang terkait dengan hinterland pelabuhan yang bersangkutan. (gambar 2).

Gambar 2: Level Transhipment (ResearchGate.net)

Pelabuhan dengan kargo transhipment rendah (kurang dari 25%), berarti transhipment bukan merupakan aktivitas utama. Sebaliknya, pelabuhan yang memiliki kargo transhipment di atas 75% dapat dianggap sebagai pelabuhan transhipment. Pada level transhipment mencapai di atas 80%, sebuah pelabuhan dapat disebut sebagai

Gambar 3: Model Transhipment (asafashar.com)

pelabuhan transshipment murni (pure transhipment port)

Berdasarkan tipologi/pattern, transhipment terdiri atas tiga jenis , yaitu Hub and Spoke; Intersection, dan Relay. (Gambar 3). Model Hub and Spoke merupakan model yang paling dominan ditemui, populasinya hingga 85% (gambar 3).

Dedicated Berth

Kebutuhan transhipment secara bersamaan menumbuhkan jasa transhipment di sektor kepelabuhanan. Beberapa pelabuhan sudah kita kenal berfungsi sebagai transhipment hub. Bahkan terjadi persaingan antar perlabuhan di dalam region yang sama.

Yang paling fenomenal adalah ‘perang’ antara Pelabuhan Singapura (PS) dan Pelabuhan Tanjung Pelepas (PTP) di Malaysia. Disebut ‘perang’ karena keduanya berada dalam region yang sama, yaitu Asia Tenggara, dan terletak pada choke point internasional Selat Malaka. Dunia pelayaran memetik lesson learned dari persaingan tersebut. Salah satunya adalah strategi dedicated berth.

Strategi dedicated berth maksudnya adalah pengelolaan pelabuhan dengan sistem landlord, dimana pengusahaan terminal oleh swasta (perusahaan pelayaran) melalui konsesi atau kerjasama. Perusahaan pelayaran berinvestasi dan mengelola dermaga atau terminal bagi kepentingan transhipment_nya.

Bagi perusahaan pelayaran, cara ini menarik karena memperbesar portofolio investasi, memiliki fleksibilitas dalam deployment armada, dan kendali pelayanan barang (bongkar muat dan penyimpanan). Perusahaan pelayaran umumnya memiliki kemampuan bongkar muat dan mengelola terminal. Bahkan ada beberapa perusahaan pelayaran yang memiliki usaha terminal yang terpisah secara manajemen, walau dalam kepemilikan yang sama.

Sejak PTP beroperasi di tahun 1999 hingga 2002, dunia pelayaran telah menyaksikan pertarungan keras PTP dan PS. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut, PTP berhasil merebut dua pelanggan besar PS yakni Maerks Line dan Evergreen. Keduanya memindahkan pusat transhipmentnya dari PS ke PTP.

Shifted tersebut sempat membuat PSA (pengelola PS) limbung dan harus melakukan upaya bertahan dengan menurunkan tarif terminal serta -termasuk- akhirnya juga menerapkan dedicated berth. Mengubah perannya dari operating port menjadi hybrid operating port dan landlord. Perang PS dan PTP juga memperlihatkan bahwa dalam kasus transhipment pihak pelayaran memiliki daya tawar lebih tinggi.

Tantangan Kuala Tanjung

Gambar 4: Peta Transhipment di Selat Malaka (Kemenhub)

Pelabuhan Kuala Tanjung dibangun Pemerintah Indonesia melalui penugasan kepada Pelindo 1 (BUMN). Ambisinya, pada tahun 2042 total Throughputnya mencapai 20 juta ton cargo liquid dan 6 juta TEU kontainer. Kuala Tanjung juga dibangun dengan ambisi menggeser peti kemas ekspor impor Indonesia yang selama ini melalui PS, PTP, dan Port Klang, yang bagi ketiganya dihitung sebagai kargo transhipment.

Dalam skenario pengembangan Kuala Tanjung yang diperoleh Jurnal Maritim, pelabuhan yang terletak di pesisir timur Simatera Utara tersebut akan menerapkan dedicated berth, menggandeng operator pelayaran besar dalam mengoperasikan terminal. Pelindo 1 juga disebut akan menggandeng Port of Rotterdam yang berpengalaman mengelola pelabuhan gateway di Eropa utara.

Hingga 2017, belajar dari ‘perang’ perebutan kargo transhipment, ketiga pelabuhan (PS, PTP dan Port Klang) masing-masing kemudian mengembangkan kapasitas terminal dan kawasan industri yang terintegrasi sebagai hinterland. Tujuannya untuk memperbesar porsi kargo gateway, mengurangi ketergantungan pada kargo transhipment, sekaligus menghindari persaingan keras dalam perebutan kargo transhipment. PSA membangun terminal Tuas yang berkapasitas hingga 60 juta TEU. Port Klang dan PTP menambah kapasitas terminal dan membangun kawasan Industri untuk captive hinterlandnya.

Throughput Port Klang terdiri dari 69% kargo transhipment dan 31% kargo gateway, sedangkan Pelabuhan Singapura memiliki porsi 85% kargo transhipment dan 15% kargo gateway. PTP adalah pengecualian, karena oleh Pemerintah Malaysia direncanakan khusus sebagai pelabuhan transhipment murni. Porsi kargo transhipment-nya mencapai 94%.

Dengan proyeksi pada tahun 2030 arus peti kemas yang melewati selat Malaka mencapai sebesar 100 juta TEU, bagaimanakah strategi Kuala Tanjung? Kami akan mengulasnya pada tulisan berikutnya. [AF, AS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.