Home Artikel SAR Lion Air JT 610. KRI Rigel 933 dan Teknologi Pencarian di...

SAR Lion Air JT 610. KRI Rigel 933 dan Teknologi Pencarian di Dasar Laut

384
0
SHARE

JMOL. Saat ini, dalam mencari dan memastikan obyek di dasar laut, umumnya digunakan empat alat yang dioperasikan secara bergantian, yaitu multibeam echosounder, magnetometer, side scan sonar, dan remote operated vehicle (ROV).

Multi Beam Echo Sounder berfungsi melakukan pemetaan biometri dalam laut. Side Scan Sonar untuk pemetaan dasar laut secara lebih tajam dan presisi. Kemudian Magnetometer atau alat deteksi logam. Dan yang keempat adalah ROV (Remotely Operated Vehicle) yang memiliki sistem kamera resolusi tinggi untuk menampilkan visual obyek.

Pesawat Lion Air JT 610 jatuh pada 29 Oktober 2018 pagi hari di laut Jawa, sekitar 20 km sebelah utara Tanjung Karawang berdasarkan radar ATC. Badan pesawat diperkirakan berada di dasar laut yang memiliki kedalaman 30-35 meter. Namun lokasi pastinya belum ditemukan.

Di hari pertama sudah ditemukan serpihan kecil dari pesawat dan potongan yang diperkirakan tubuh korban. Pencarian visual dihentikan sore hari di hari pertama kemarin dan dilanjutkan pagi ini. Kepala Basarnas mengatakan kapal survei KRI Rigel 933 milik TNI AL sudah beroperasi melakukan pencarian sejak hari pertama dan terus bekerja 24 jam. Kapal Riset milik BPPT, KR Baruna Jaya 1 juga dioperasikan.

Mengingat kedalaman laut Jawa di sekitar lokasi jatuhnya pesawat yang berkisar 30-35 meter, bisa saja penyelaman dilakukan segera setelah Side Scan Sonar memberikan hasil. Tergantung kondisi cuaca dan visibility.

SAR Air Asia QZ8501

Pengalaman dari operasi SAR pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di laut Jawa dekat selat Karimata pada 28 Desember 2014. Saat itu, selain karena luasnya area pencarian (radius 270 mil laut), cuaca buruk berupa gelombang tinggi dan arus kencang telah menyulitkan pengoperasian peralatan dan operasi penyelaman. Ditambah kondisi dasar laut yang berupa material lempung, lumpur, dan pasir halus.

Serpihan pesawat dan jenazah mulai ditemukan pada 30 Desember 2014. FDR ditemukan pada 12 Januari 2015. VCR ditemukan esoknya diantara tumpukan pasir dan lumpur pada kedalaman 35 meter.
Walau ROV sudah berhasil menemukan badan pesawat pada 14 Januari 2015, namun tim penyelam dari KRI Banda Aceh 593 baru berhasil menemukan potongan besar badan dan sayap pesawat pada 28 Februari 2015, dan mengangkatnya 5 Maret 2015.

KRI Rigel 933

KRI Rigel 933 dan KR Baruna Jaya 1 memiliki ke-empat peralatan di atas. Bahkan KRI Rigel 933 yang merupakan kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) yang tercanggih di Asia.

Terbuat dari aluminium dengan bobot 560 ton dengan dimensi panjang 60,1 meter dan lebar 11,5 meter. Dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang dapat melaksanakan pencitraan bawah laut hingga kedalaman 1000 meter.

Selain itu, juga dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), SSS (Side Scan Sonar), Laser Scaner untuk mendapatkan gambaran daratan, AWS (Automatic Weather Station), Echo Sounder Multibeam laut dalam dan Single beam, Peralatan CTD (Conductivity Temperatureand Depth), Gravity Corer, kelengkapan Laboratorium serta kemampuan survei perikanan.

Jika luasan pencarian, cuaca dan kondisi dasar laut tidak seperti saat operasi SAR Air Asia QZ8501 di selat Karimata di atas, kita semua berharap lokasi badan pesawat dapat segera ditemukan. Duka mendalam untuk seluruh korban. Alfatehah. [JB]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.