Home Berita INSA Minta Penundaan Biodiesel B20 di Pelayaran

INSA Minta Penundaan Biodiesel B20 di Pelayaran

376
1
SHARE

JMOL. Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (Indonesian National Shipowners Association, INSA) memohon kepada pemerintah untuk menunda pemakaian BBM Bio Diesel alias B20 pada Industri pelayaran karena adanya sejumlah masalah teknis yang berimplikasi pada keselamatan dan biaya.

Permohonan penundaan di atas tertuang dalam surat DPP INSA No 153/INSA/X/2018 yang ditujukan kepada empat menteri, yaitu Menko Perekonomian, Menteri ESDM, Menteri Perhubungan, dan Menteri Perindustrian. Ini merupakan respon INSA terhadap keinginan pemerintah agar industri pelayaran dan transportasi nasional menggunakan Bio Diesel (B20).

Berdasarkan kajian INSA, pemakaian B20 pada mesin kapal dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi yang serius pada aspek keselamatan, investasi serta biaya.

Pada aspek keselamatan, sejumlah aspek teknis yang mengganjal yaitu kualitas B20 yang tidak konsisten, belum adanya standar marine untuk B20, dan potensi dispute warranty mesin dan asuransi akibat pengaruh solvent B20 yang agresif terhadap seals dan gaskets.

Karena kualitas B20 saat ini belum kompatible dengan HSD (jenis BBM eksisting) maka diperlukan tambahan investasi, antara lain untuk pembersihan tanki, pipa dan sistem BBM, serta tambahan biaya untuk pemeliharaan sistem penyimpanan B20.

Untuk memperkuat argumennya, INSA menyertakan testimoni dari sejumlah institusi luar (UK Royal Navy (AL Inggris), NATO, dan US Military) yang pada intinya, dengan sejumlah alasan, melarang penggunaan bio diesel pada armada kapal mereka.

Namun menurut INSA, penggunaan B20 sebaiknya dianjurkan untuk kapal bangunan baru, dimana sistem permesinannya daoat dipersiapkan menggunakan B20. Sementara untuk kapal lama, masih diperlukan sejumlah riset dan pengujian untuk memastikan dampak teknis dan biayanya.

Catatan Teknis B20

INSA melansir beberapa catatan tentang penggunaan BBM B20 di mesin kapal laut, antara lain:

  • Kandungan FAME (cairan/solvent BBM B20) bersifat agresif pada Seals dan Gaskets
  • Sifat pembersih pada solvent di BBM 20, akan membawa kotoran ke penyaring. Menyebabkan frekuensi pergantian Fuel Filter meningkat, sehingga menganggu operasioal kapal dan menambah biaya.
  • BBM B20 dapat menyebabkan timbulnya GEL, yang dalam keadaan dingin akan menimbulkan sejumlah masalah terutama saat penyimpanan.
  • Penyimpanan dalam waktu lama (di lebih dari 8 minggu), membuat BBM B20 menjadi tidak stabil dan membentuk emulsy. Jika tidak ada perlakuan khusus, BBM B20 menjadi out of specification.
  • BBM B20 juga tidak dapat disimpan di tanki terbuka, karena sensitif pada kelembaban dan pertumbuhan bakteri.
  • Penggunaan B20 mengakibatkan berkurangnya tenaga yang dihasilkan mesin diesel, sehingga diperlukan volume B20 yang lebih banyak (dibanding HSD) untuk jarak yang sama.
  • Terdapat potensi masalah karena B20 tidak cocok/tidak compatible dengan material tembaga (copper/copper nickel) yang digunakan pada sistem BBM eksisting.

Belum diketahui tanggapan pemerintah atas usulan INSA tersebut. Termasuk sejumlah rekomendasi INSA tentang riset dan pengujian B20.

Sebuah FGD yang digelar Alumni SISKAL ITS pada hari ini (24/10) menjadi penanda bahwa isu B20 di maritim nampaknya sedang menghangat. Isu B20 di pelayaran Indonesia menambah isu di seputar BBM yang tengah dihadapi pelayaran dunia, yaitu IMO Sulphur Cap tahun 2020. [AF]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.