Home Artikel Dampak Virus Corona, Pelayaran Hadapi Kongesti Pelabuhan dan Turunnya Permintaan

Dampak Virus Corona, Pelayaran Hadapi Kongesti Pelabuhan dan Turunnya Permintaan

303
0
SHARE

JMOL. Rapat Terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo pada Selasa (4/2), salah satunya memutuskan bahwa pengiriman barang/kargo dari dan ke negara China, baik melalui pelabuhan dan bandara, tetap berjalan seperti biasa. Indonesia hanya menghentikan sementara pengiriman hewan hidup (life animal) dari China. Sementara untuk penerbangan, yang mengangkut orang, dari dan ke mainland China dihentikan sementara.

Sikap Indonesia di atas sejalan dengan sikap WHO dan IMO yang menyarankan tindakan untuk membatasi risiko penyebaran virus Corona, tanpa pembatasan terhadap lalu lintas barang internasional.

Baca: Rekomendasi IMO tentang Keadaan Darurat Global Virus Corona

Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) menyatakan akan mengawasi secara ketat pelaksanaan rekomendasi IMO terkait peningkatan pengawasan dan pencegahan terhadap masuknya virus Korona ke tanah air. Demikian menurut Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad pada hari Rabu (5/1).

Permintaan Anjok

Di China sendiri, untuk membatasi penyebaran virus Corona di dalam negeri, Pemerintah telah memperpanjang libur Tahun Baru Imlek hingga 9 Februari. Diterapkan di setidaknya 14 kota dan provinsi. Tujuh di antaranya berada di pesisir timur China, antara lain Guangdong, Fujian, Zhejiang, Shanghai, Jiangsu, Shandong, dan Hebei. Semuanya adalah pusat industri dan perdagangan dengan dukungan fasilitas pelabuhan modern dan berkapasitas besar.

Perpanjangan libur Imlek di atas membuat produksi dan aktivitas logistik menurun. Penerapan prosedur pemeriksaan yang lebih ketat terhadap kapal dan awaknya, membuat arus barang terlambat. Kombinasi keduanya berdampak besar terhadap industri pelayaran dunia.

Baca: Dampak Virus Corona, China Tawarkan Sertifikat Force Majure

Merujuk PR News Service, firma riset kontainer yang berbasis di Inggris, dampak dari kongesti dan anjloknya demand membuat perusahan pelayaran dunia membatalkan beberapa skedulnya.

Maersk line membatalkan dua pelayaran Asia-Eropa. Dua kapal yang awalnya dijadwalkan berlayar dalam dua minggu ke depan, dengan kapasitas setara 26.000 kaki (TEU). Ocean Alliance, yang dipimpin CMA CGM, membatalkan tiga jadwal pelayaran rute Asia-Eropa untuk tiga minggu ke depan, yang melibatkan kapal CMA CGM Laperouse (13,380-TEU), Ever Globe (20,160-TEU), dan CSCL Saturn (14,074-TEU).

Walau terlalu dini, keadaan di China saat ini memang membuat dunia khawatir. Sepuluh pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia berada di negara tersebut.
Pemilik dan operator armada terbesar ketiga di dunia, yaitu COSCO berpusat di China untuk kargo, awak kapal dan logistik. Sekitar 70 persen lalu lintas barang di dunia melewati kawasan Asia, dimana dan 50 persen didominasi kargo dan armada China. [AF]