Home Berita Wabah Virus Corona Sebabkan Kongesti Pelabuhan, China Tawarkan Sertifikat Force Majure

Wabah Virus Corona Sebabkan Kongesti Pelabuhan, China Tawarkan Sertifikat Force Majure

1299
0
SHARE

JMOL. Dewan Promosi Perdagangan Internasional China (China Council for the Promotion of International Trade, CCPIT) menawarkan sertifikat force majeure kepada pelaku usaha yang mengalami keterlambatan dan kemacetan di pelabuhan, sebagai dampak prosedur pencegahan penyebaran virus Corona 2019nCoV.

CCPIT, yang terakreditasi Kementerian Perdagangan China, menyebutkan bahwa pengajuan permohonan force majure wajib menyertakan beberapa dokumen pendukung yang relevan, termasuk bukti keterlambatan atau pembatalan transportasi (laut, udara atau darat), dan pernyataan dari kantor bea cukai terkait.

Force majeure adalah klausa hukum yang ditetapkan ketika salah satu pihak tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktual karena keadaan yang tidak terduga. Dalam keadaan force majure, kewajiban kontraktual tersebut dapat dihapuskan.

Langkah CCPIT di atas dimaksudkan untuk melindungi hak dan kepentingan perusahaan yang berbasis di Cina, dan untuk membantu mereka mengurangi kerugian.

“Virus Corona membuat beberapa perusahaan Cina alami dampak yang parah karena proses produksi dan logistiknya dan kemungkinan tidak dapat memenuhi kontrak mereka dengan mitra dagang,” kata CCPIT, mengutip Fastmarkets MB.

Dampak terhadap Logistik

Pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Corona sebagai “Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang memerlukan Kepedulian Internasional”, atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Walau WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan dan perdagangan, sejumlah negara menghentikan sementara penerbangan langsung dari dan ke kota-kota di China Mainland. Sementara pelabuhan masih terbuka melayani arus barang.

Baca: Rekomendasi IMO tentang Keadaan Darurat Global Virus Corona

Untuk mencegah penyebaran virus Corona melalui laut, hampir semua otoritas pelabuhan menerapkan prosedur tambahan terhadap kapal dan awal kapalnya, terutama yang dari dan ke pelabuhan-pelabuhan di China. Di Wuhan Port, sebelum bersandar kapal diminta untuk menunggu jauh dari dermaga untuk diperiksa oleh petugas kesehatan. Pelabuhan Tanjung Priok juga menerapkan prosedur yang serupa. Tambahan prosedur di atas menyebabkan keterlambatan kapal dan berdampak terhadap semua titik distribusi. Keterlambatan ini juga membuat biaya kapal melonjak karena bertambahnya durasi.

Baca: Sejumlah Pelabuhan di Indonesia Perketat Pemeriksaan Kapal Asal China

Arus Barang di Wuhan Port Terhambat

China adalah pusat industri dan perdagangan dunia. Negara ini juga adalah importir minyak mentah dan pengekspor baja terbesar di dunia. China memiliki tujuh pelabuhan tersibuk di dunia dan terkoneksi dengan hampir seluruh pelabuhan utama dunia lainnya. Pelabuhan Shanghai, yang arus peti kemasnya mencapai hampir 40 juta TEUs setiap tahunnya, telah memperpanjang liburan imlek hingga 9 Februari. [AS]