Home Artikel UNCTAD RMT 2021: Performa Pelabuhan Kontainer dan Curah

UNCTAD RMT 2021: Performa Pelabuhan Kontainer dan Curah

306
1
SHARE

JMOL. UNCTAD baru saja merilis publikasi andalannya, Review Maritime Transport (RMT) 2021. Sejak 1968, melalui RMT, UNCTAD secara kontinu melaporkan perkembangan perdagangan lintas laut (seaborne trade), armada dunia, tarif angkutan, performa pelabuhan, kepelautan, serta regulasi yang relevan dengan seaborne trade. Laporan setebal 180 halaman mengkover data dan peristiwa sejak Januari 2020 hingga Juni 2021. Selengkapnya dapat diunduh di sini

Artikel kali ini fokus pada performa pelabuhan dunia termasuk pelabuhan di Indonesia. Topik lainnya akan dibahas pada artikel terpisah.

Pelabuhan melayani bongkar muat barang (kargo) yang diangkut oleh kapal sesuai jenis kargonya. RMT 2021 menampilkan data performa pelabuhan terhadap jenis kargo dan moda pengangkutnya, yaitu kontainer (diangkut menggunakan container ship), curah kering (dry bulk carrier), dan curah cair (tanker).

Pelabuhan Kontainer

RMT 2021 menganalisis relasi performa pelabuhan dan lamanya waktu kapal di pelabuhan (port time). Data mentahnya diambil dari CPPI (Container Port Performance Index) tahun 2020 yang dirilis Bank Dunia dan IHS Markit. Data mentah CPPI terdiri atas Call Size, Ship Size dan Port Time dari 137 pelabuhan.

Semakin besar call size, semakin lama port time, namun semakin baik performa pelabuhan. Terjadi apa yang disebut sebagai “economic of scale”.

Port Call Size atau call size adalah jumlah gerakan yang diperlukan untuk loading dan unloading (termasuk restow) seluruh kontainer dari/ke kapal pada setiap call. Dinyatakan dalam “moves”. Call Size juga berarti jumlah kontainer yang akan dibongkar/dimuat di pelabuhan. Berkorelasi dengan ship size.

Anatomi Ship Call

Port time adalah lamanya durasi waktu sejak kapal berangkat dari port limit hingga meninggalkan dermaga (point 1-4). Port time, sering disebut port hours, dinyatakan dalam jam.

Performa pelabuhan dinyatakan dalam “Minutes per container move”, yaitu lamanya waktu (dalam menit) yang diperlukan untuk satu pergerakan kontainer; loading atau unloading.

Contohnya, call size 500 berarti diperlukan 500 gerakan untuk memindahkan seluruh kontainer dari kapal ke dermaga (pada operasi unloading). Sementara minutes per container move = 4, berarti diperlukan 4 menit untuk unloading satu kontainer.

Berdasarkan tabel di atas, untuk call size 501-1000, pelabuhan di Indonesia membutuhkan 2,35 menit untuk loading atau unloading sebuah kontainer. Lebih lama dibanding rata-rata global yang 2.02 menit. Namun, untuk call size 4001-6000, hanya dibutuhkan 0.67 menit atau 40 detik untuk satu kontainer. Lebih cepat sedikit dibanding rata-rata global 0.70 menit.

Performa pelabuhan kontainer di Indonesia terbilang baik. Walau masih kalah dibanding Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Keluhan atas lambannya kontainer sampai ke gudang consignee bisa jadi karena kontribusi dwelling time (waktu tunggu kontainer di pelabuhan) dan tingginya trucking time karena kemacetan.

Pelabuhan Curah

Pelabuhan curah kering melayani dry bulk carrier. Yang termasuk Kargo curah kering adalah batu bara, bijih besi, komoditas pertanian seperti jagung dan bungkil kedelai.

RMT 2021 mengambil data dari VesselsValue untuk menghitung performa pelabuhan curah kering, yang terdiri atas ton per menit dan durasi kapal di pelabuhan seperti tabel berikut.

Dari tabel di atas, muat (loading) tercepat sebesar 48 ton per menit dicapai oleh Australia. Untuk operasi bongkar (discharge) tercepat terjadi di China, 23 ton per menit. Australia dikenal sebagai eksportir batu bara dan bijih besi. Sementara China adalah negara pengimpor terbesar untuk bermacam komoditas curah kering.

Performa pelabuhan curah kering di Indonesia adalah 10 ton per menit untuk loading dan 8 ton per menit untuk discharge. Di Indonesia, dry bulk carrier rata-rata menghabiskan 58 jam untuk loading dan 54 jam untuk discharge.

Sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, performa loading di Indonesia terbilang rendah. Pada tahun 2019, ekspor batu bara Indonesia mencapai 455 juta ton. Terbesar di dunia. Diikuti Australia sebanyak 395 juta ton. Dengan kalkulasi sederhana, volume ekspor batu bara Indonesia berkisar 37-40 ribu ton per shipment. Sementara Australia berkisar 200 rb ton per shipment, sehingga dapat menggunakan kapal kelas capesize.

Baca: Bulker, Kapal Pengangkut Kargo Curah Kering

Akses ke lokasi tambang yang jauh dan umumnya melalui sungai membuat operasi loading batu bara menerapkan pola transhipment. Batu bara diangkut menggunakan barge melalui sungai lalu dipindahkan ke dry bulk carrier di lepas pantai. Kondisi ini membatasi kapasitas kapal (ship size) yang digunakan, yang berkisar antara Handysize atau Handymax.

Pelabuhan Curah Cair

Pelabuhan curah cair melayani kapal tanker. Minyak mentah (crude oil), product oil, CPO, LNG termasuk dalam kargo jenis ini. Performa pelabuhan curah cair dinyatakan dalam ton per menit dan durasi kapal di pelabuhan.

Loading tercepat terjadi di Angola dengan 113 ton per menit. Diikuti oleh Qatar 95 ton per menit, Kuwait (90), and Saudi Arabia (86). Empat negara ini adalah produsen dan eksportir minyak dunia.

Baca: Mengenal Oil Tanker dan Chemical Tanker

Untuk operasi discharge, performa terbaik 83 ton per menit ada di Jepang. Diikuti Diikuti Korea Selatan (67) dan Kuwait (54).

Di Indonesia, performa pelabuhan curah cair adalah 19 ton per menit (loading) dan 20 ton per menit (discharge). Secara ranking, Indonesia berada di papan bawah dari 30 negara. Di Indonesia, kapal tanker rata-rata menghabiskan waktu 50 jam untuk operasi loading dan 62 jam untuk operasi discharge. [AQS]