Home Artikel UNCTAD Review Of Maritime Transport 2019: Struktur Industri Pelayaran Dunia

UNCTAD Review Of Maritime Transport 2019: Struktur Industri Pelayaran Dunia

405
0
SHARE

JMOL. UNCTAD, badan PBB yang menangani isu perdagangan, investasi dan pembangunan, baru saja merilis Review of Maritime Transport tahun 2019. Review rutin tahunan ini diterbitkan awal November 2019. Menyajikan data dan tren pelayaran dunia sepanjang tahun 2018.

Baca: Review of Maritime Transport 2018: Struktur dan Kepemilikan Armada Pelayaran Dunia

Selain kondisi politik, ekonomi dan perdagangan dunia yang sudah merupakan faktor tradisional, isu lingkungan kini ikut hadir menjadi faktor baru yang ikut menentukan perkembangan bisnis pelayaran dunia. Contohnya adalah IMO sulphur Global Cap atau IMO2020.

BACA: IMO Global Sulphur Cap, Masih Ada Ketidakpastian Bagi Industri Pelayaran dan Refinery

Armada Dunia

Pada awal tahun 2019, tercatat ada 96.402 unit kapal niaga yang beroperasi di seluruh dunia. Setara dengan kapasitas angkut sebesar 1,9 milyar DWT. Meningkat 2,6 persen dari tahun sebelumnya. Bulk carrier (42.6 persen) dan oil tanker (28.7 persen) adalah jenis kapal populasi terbanyak. Gas carrier merupakan jenis kapal yang mengalami pertumbuhan tertinggi (sebesar 7,25 persen). Mengikuti pertumbuhan perdagangan LNG yang terus meningkat. Prospek Gas Carrier diperkirakan senakin cerah di tahun-tahun mendatang, seiring penggunaan LNG sebagai bunker kapal.

Pertumbuhan kedua adalah kapal kontainer (5 persen). Jenis chemical tanker dan bulk carrier cenderung stabil, sementara segmen oil tanker mengalami penurunan pertumbuhan.

Walaupun tingkat pertumbuhan armada terus menurun sejak 2011, namun oversupply masih terjadi pada semua segmen.

China Terbesar

Per 1 Januari 2019, lima negara terbesar asal pemilik kapal (shipowning country, berdasarkan tonase) adalah Yunani, Jepang, China, Singapura dan Hongkong. Dimana lebih dari 50 persen kapal dimiliki (shipowner asal) China. Struktur shipowning country tersebut sesuai data UNCTAD selama lima tahun terakhir, dimana Jerman, Jepang dan Korea Selatan memperlihatkan trend menurun. Sementara Yunani, Singapura, China dan Hong Kong meningkat.

Jika dihitung dari nilai komersial kapal, maka lima besar negara adalah Yunani, Jepang, Amerika Serikat, China, dan Norwegia. Yunani banyak memiliki oil tanker, bulk carriers, dan gas carriers. Jepang dan China bahyak terdapat bulk carriers. Jerman kuat di container ship. Sementara Amerika Serikat banyak memiliki Ferry dan kapal penumpang.

Sayangnya, UNCTAD tidak menampilkan shipowning country berdasarkan jumlah unit kapal. Jika itu dilakukan, maka Indonesia termasuk dalam 5 besar dunia. Jumlah kapal Indonesia mencapai 2 145 unit. Di bawah Jerman (urutan ke-4) dengan 2 672 unit.

Foreign Registry Dominan

Pelayaran adalah bisnis yang bersifat global. Negara asal pemilik kapal dapat berbeda dengan negara dimana kapal tersebut didaftarkan. Istilahnya adalah National Registry dan Foreign Registry. National Registry adalah kondisi dimana pemilik kapal mendaftarkan kapalnya di negaranya sendiri. Sementara Foreign Registry adalah kategori dimana pemilik kapal mendaftarkan kapalnya di negara asing atau selain negara asalnya. Menariknya, lebih dari 70 persen kapal (by tonase) tercatat dalam kategori Foreign Registry.

Pemilik kapal asal Indonesia termasuk sangat ‘setia’. National Registry Indonesia mencapai 93 persen. Artinya hanya 7 persen yang berbendera asing. Terbanyak kedua setelah Iran yang national registry-nya mencapai 98 persen. Menyusul setelah Indonesia yaitu: Vietnam (81 persen), Thailand
(73 persen), Hong Kong, China, Saudi Arabia, Malaysia (masing-masing 72 persen), India (66 persen), Itali (61 persen) dan Singapore (56 persen).

Mengapa banyak pemlik kapal yang mendaftarkan kapalnya di negara asing? akan dibahas pada artikel lainnya.

Usia Kapal

Seperti halnya pada manusia, umur kapal menggambarkan masa depan bisnis pelayaran. Di awal 2019, rata-rata umur seluruh kapal niaga adalah 21 tahun. Sedikit lebih tua dibanding rata-rata tahun sebelumnya. Namun, jika menengok per segmen, kapal berusia muda (di bawah 10 tahun) terlihat mendominasi. Pada bulk carrier ada 71 persen kapal yang berumur 10 tahun ke bawah. Diikuti segmen container (56 persen) dan oil tanker (54 persen).

Sebaliknya, hanya 35 persen kapal muda di segmen general cargo, dan 41 persen di kapal jenis lainnya. Memperlihatkan bahwa tidak ada pembangunan kapal baru untuk kedua segmen tersebut.

Galangan Kapal

Sepanjang 2018, sebanyak 58 juta GT kapal baru yang dibangun. Didominasi jenis bulk carrier (26.7 persen dari total gross ton), oil tanker (25 persen), container ship (23.5 persen), dan gas carrier (13 per cent).

Dari asal negara galangan kapal, China (40 persen), Jepang (25) dan Korea Selatan (25) masih tetap mendominasi industri pembangunan kapal. Ketiga negara tersebut berkontribusi 90 persen (berdasarkan GT) pasokan kapal baru.

Laporan UNCTAD juga mencatat detil sebagai berikut. China membuat 60 persen bulk carrier di seluruh dunia. 49 persen container ships, 47 persen general cargo ships, dan 45 persen offshore vessels.

Korea Selatan memimpin pada pembangunan kapal gas carrier (64 persen), danoil tanker (42 persen). Sementara Jepang menguasai pembangunan chemical tanker (45 persen) dan membuat 33 persen jenis bulk carrier.

Sepanjang tahun 2018, sebanyak 18,3 juta GT kapal yang dibesituakan. Hampir separuhnya dilakukan di Bangladesh. Terbanyak dari jenis oil tanker.

Pada 2019 ini, Bangladesh, India, Pakistan dan Turki merupakan negara terbanyak tempat kegiatan scrap kapal. Secara khusus, industri scrap kapal di Bangladesh mencatat pertumbuhan yang menakjubkan. Menyalip India sejak 2017, kini hampir separuh (47,2 persen, GT) dari kapal di dunia dibesituakan di Bangladesh. [AS]