Home Berita TOL LAUT 2021, Trayek Bertambah dan Tantangan Imbalance Trade

TOL LAUT 2021, Trayek Bertambah dan Tantangan Imbalance Trade

3861
3
SHARE

JMOL. Tol Laut adalah pelayaran jenis liner multi port (trayek tetap, jadwal tetap, singgah di beberapa pelabuhan) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia, melalui Kemenhub dan Ditjen Perhubungan Laut (Hubla),  dengan melibatkan semua unit pelaksana di daerah, termasuk kerjasama dengan pemerintah daerah.

Tujuan penyelenggaraan Tol Laut adalah untuk menunjang distribusi barang dan pengembangan ekonomi di daerah terpencil dan belum berkembang, serta sebagai upaya menurunkan disparitas harga barang antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur.

Trayek Terus Bertambah

Trayek atau rute Tol Laut terus bertambah. Berawal dengan hanya 2 trayek pada tahun 2015. Kemudian menjadi 6 trayek di tahun 2016. Terus bertambah di tahun-tahun berikutnya: 13 trayek (2017), 18 trayek (2018) ,20 trayek (2019), dan 26 trayek (2020). Penambahan jumlah trayek di atas diiringi penambahan jumlah pelabuhan dan kapal.

Untuk tahun 2021 ini, Ditjen Hubla menambah 6 trayek baru sehingga keseluruhan menjadi 32 trayek. Melibatkan 106 pelabuhan, yang terdiri atas 9 pelabuhan pangkal, dan 97 pelabuhan singgah. (Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor AL. 815/DJPL/2020).

Tanjung Perak menjadi pelabuhan pangkal yang melayani trayek terbanyak. Ada 15 trayek tol laut yang berawal dan berakhir di pelabuhan di Kota Surabaya, Jawa Timur ini.

Pelabuhan pangkal berikutnya, yaitu Tanjung Priok (Jakarta), Soekarno Hatta (Makassar), dan Kelapa Lima (Merauke-Papua) masing-masing menjadi pangkal bagi 3 trayek. Bitung dan Timika 2 trayek. Sisanya Teluk Bayur, Kupang, Maumere, dan Biak masing-masing 1 trayek.

Trayek T-9 yang berpangkal di Tanjung Perak merupakan trayek tol laut yang terpanjang, yaitu 4072 NM (Nautical Mil) atau sekitar 7500 KM. Kapal KM Kendhaga Nusantara 09 (60 TEUs) dengan operator PT Luas Line memerlukan waktu 25 hari untuk trayek ini.

Trayek terpendek adalah T-13 (Kupang- Rote- Sabu- Waingapu- Kupang) dengan total jarak 419 NM atau 776 KM. Trayek yang membutuhkan 11 hari layar ini dioperatori oleh PT Pelni menggunakan KM Kendhaga Nusantara 11 (60 TEUs).

Armada dan Operator

Sesuai jumlah trayeknya, maka ada 32 kapal yang dioperasikan pada program Tol Laut tahun 2021 ini. Darinya, 14 unit merupakan kapal milik negara.

Setiap trayek dioperatori oleh perusahaan pelayaran nasional yang dipilih melalui penugasan dan pelelangan. Penugasan dari pemerintah hanya diberikan BUMN pelayaran. Perusahaan pelayaran swasta nasional dapat menjadi operator trayek Tol Laut melalui mekanisme pelelangan.

Pada Tol Laut 2021 ini, Pemerintah kembali menugaskan tiga BUMN Pelayaran menjadi operator di 21 trayek, dengan rincian PT Pelni 8 trayek; PT ASDP 7 trayek; dan PT Djakarta Lloyd (DL) dengan 5 trayek. Operator pada 12 trayek sisanya dipilih melalui mekanisme pelelangan. Beberapa operator yang terpilih diantaranya adalah PT Tempuran Mas (Temas), PT Luas Line, dan PT Pelayaran Pelangi Tunggal Ika.

Imbalance Trade 2020

Dari paparan progres Tol Laut Logistik dari Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Hubla yang diterima Redaksi, ada beberapa catatan menarik kinerja tol laut di tahun 2020 kemarin.

Sejak dimulai, volume muatan yang diangkut melalui Tol Laut selalu meningkat. Dari 81.404 ton (4070 TEUs) di tahun 2016 menjadi 362.560 ton (18.126 TEUs) di tahun 2020, alias meningkat sebesar 77 persen dalam 5 tahun. Pertumbuhan ini disebabkan karena bertambahnya trayek, pelabuhan, dan kapal. Sudah cukup bagus mengingat 2020 adalah tahun pertama pandemi Covid-19.

Ketidakseimbangan atau gap antara muatan berangkat dan muatan balik masih tinggi. Dari total muatan 18126 TEUs di sepanjang tahun 2020 lalu, volume muatan berangkat (13825 TEUs) 3,2 kali lebih banyak dibanding muatan balik (4303 TEUs.). Gap rata-rata sebesar 69 persen.

Yang menarik adalah trayek T-15 (Tg. Perak – Makassar – Jailolo – Morotai – Tg. Perak) dengan total jarak layar 2607 NM dan 17 hari layar tiap voyage. Selain merupakan trayek dengan throughput terbanyak (2226 TEUs), muatan baliknya (1239 TEUs) lebih besar dibanding muatan berangkat (987 TEUs). Dengan gap masih terhitung wajar sebesar 26 persen. Trayek T15 ini dilayani oleh kapal KM Logistik Nusantara 03 (105 TEUs) dengan operator PT Pelni.

Trayek T-18 (Tg. Perak- Badas- Bima -Tg. Perak) sepanjang 867 NM (22 hari) adalah trayek dengan total muatan paling sedikit. Total muatan di sepanjang tahun 2020 lalu hanya 471 TEUs. PT Temas menjadi operator trayek ini.

Sementara trayek dengan muatan yang berimbang adalah T-5. Perbedaan antara muatan berangkat dan muatan balik hanya hanya 3,5 persen. Namun throughputnya hanya 717 TEUs. Trayek berjarak 670 NM (12 hari layar) ini terletak di paling utara Indonesia. Berpangkal di Pelabuhan Bitung dan dilayani oleh kapal KM. Kendhagi Nusantara 01 (60 TEUs) dengan operator PT. Pelni.

Sepanjang tahun 2020 kemarin, T-1 dan T-8 adalah dua trayek yang paling tinggi gap antara muatan berangkat dan muatan baliknya. Trayek T-1 (Tg. Priok-Lhokseumawe- Malahayati -Sabang-Tg. Priok) bahkan tidak ada muatan balik. Sementara pada trayek T-8 (Makassar -Bungku- Kolonodale- Makasar), muatan berangkat 676 TEUs, muatan baliknya hanya 1 TEUs.

Gap yang tinggi antara volume muatan berangkat dan muatan balik terjadi di mayoritas trayek, mengambarkan kondisi imbalance trade antara wilayah Indonesia barat dan timur. Namun, 8 bulan di tahun 2020 adalah masa pandemi Covid-19. Memasuki tahun 2021 hampir satu tahun pandemi Covid-19 dan sudah dimulainya program vaksinasi secara nasional, menjadi harapan dan tantangan bagi program Tol Laut. [AF]

3 COMMENTS

Comments are closed.