Home Artikel Terbitkan Permendag 40/2020, Pemerintah Revisi Kewajiban Penggunaan Angkutan Laut Nasional

Terbitkan Permendag 40/2020, Pemerintah Revisi Kewajiban Penggunaan Angkutan Laut Nasional

855
0
SHARE

JMOL. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2020 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut Nasional dan Asuransi Nasional untuk Ekspor dan Impor Barang Tertentu.

Permendag ini secara garis besar mewajibkan eksportir batubara dan CPO, serta importir beras dan barang pengadaan barang pemerintah untuk menggunakan angkutan laut dan asuransi nasional. Namun, khusus untuk penggunaan angkutan laut nasional, kewajiban tersebut hanya berlaku untuk penggunaan angkutan laut dengan kapasitas sampai dengan 15.000 (lima belas ribu) deadweight tonnage (dwt).

Unduh: Permendag Nomor 40 Tahun 2020

Sebelumnya, ketentuan wajib penggunaan angkutan laut dan asuransi nasional diatur dalam Permendag Nomor 82 Tahun 2017 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut dan Asuransi Nasional untuk Ekspor dan Impor Barang Tertentu, yang kemudian mengalami  beberapa kali perubahan hingga terakhir Permendag Nomor 80 Tahun 2018. Dengan terbitnya Permendag 40/2020, maka kedua permendag sebelumnya dinyatakan tidak berlaku.

Baca: Mei 2020 Ekspor Batubara Wajib Angkutan Laut Nasional, INCAFO Tepis Kekhawatiran Eksportir

Dengan Kemendag 40/2020 ini, perusahaan angkutan laut asing tetap dapat berperan dalam kegiatan ekspor dan impor barang-barang tertentu (batubara, CPO, Beras). Kemendag beralasan, pemberlakuan wajib armada nasional secara terbatas tersebut (maksimal 15.000 dwt) bermaksud agar kelancaran kegiatan ekspor dan impor barang-barang tersebut tidak terganggu. Sesuatu yang dikhawatirkan eksportir batubara dalam beberapa bulan terakhir.

Mini Bulker Tujuan ASEAN

Koordinator INCAFO ILUNI FT, Idris Sikumbang, menilai Permendag 40 tersebut adalah jalan ‘kompromi’ yang diambil pemerintah setelah mendapatkan keberatan dari eksportir batubara terhadap Permendag 82/2018.

“Kapal kapasitas 15 ribu dwt adalah jenis mini bulker. Lebih kecil dari Handysize alias setara dua kali barge ukuran 300ft. Hanya ekonomis untuk pengangkutan batubara jarak pendek seperti ke negara-negara asia tenggara, tapi ini mungkin jalan tengah yang bisa diambil saat ini”, kata Idris.

Untuk diketahui, selama ini pengangkutan ekspor batubara Indonesia dengan tujuan China, India, Korea Selatan, dan Jepang didominasi bulk carrier jenis supramax (50.000-55.000 DWT) dan panamax (65.000-75.000 DWT), serta (sedikit sekali) capesize (120.000-150.000 DWT).

Ekspor batubara Indonesia ke negara-negara Asean (terutama Malaysia, Filipina, Vietnam) tidak besar walau terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun belakangan. Pada tahun 2019, total volume ekspor batubara Indonesia ke negara ASEAN diperkirakan mencapai 50 juta ton. Lihat Grafis 1.

Negara Tujuan Ekspor Batubara Indonesia (APBI, 2020)

Namun daripada dibatalkan, permendag 40/2020 cukup lumayan sebagai langkah awal beyond cabotage. Idris berharap kebijakan ini nantinya dapat dievaluasi dan jika terbukti berjalan baik maka pemerintah perlu mempertimbangkan menaikkan limit kapasitas yang lebih besar. [AF]