Home Berita Tahun Pertama Implementasi IMO 2020 Berjalan Lancar

Tahun Pertama Implementasi IMO 2020 Berjalan Lancar

468
0
SHARE

JMOL. IMO mengumumkan implemantasi penggunaan bahan bakar kapal rendah sulfur (SOx) atau IMO 2020 berjalan lancar sepanjang 2020 kemarin. IMO 2020 adalah kebijakan pengurangan batas atas kandungan sulfur dalam bahan bakar kapal, dari 3.5 persen ke 0.5 persen. IMO berharap akan mengurangi polusi udara yang berasal dari dunia pelayaran.

Baca: Mulai 1 Januari 2020, IMO Tetapkan Global Sulphur Cap 0.5 Persen.

Praktisnya, kapal niaga di atas 5000 GT diwajibkan beralih dari penggunaan HFO ke VLSFO atau MGO. Atau menggunakan Scrubber, atau jenis bahan bakar alternatif rendah sulfut lainnya seperti LNG atau Biofuel.

Baca: Lebih dari 3000 Kapal Dipastikan Gunakan Scrubber

Mayoritas kapal niaga di seluruh dunia dilaporkan beralih dari bahan bakar minyak berat (HFO) ke VLSFO.

“Hanya ada 55 kasus ketidaktersediaan compliant fuels yang tercatat dalam Global Integrated Shipping Information System (GISIS),” kata Roel Hoenders, Head of Air Pollution and Energy Efficiency dari IMO (28/1).

Jumlah kasus tersebut terhitung sangat sedikit dibanding 60 ribu unit kapal niaga yang beroperasi di sepanjang tahun lalu.

Yang termasuk compliant fuels adalah very low sulphur fuel oil (VLSFO) and marine gas oil (MGO). Sepanjang tahun 2020, dan hingga tahun 2021 bulan ini, IMO belum menerima laporan masalah keamanan yang terkait VLSFO.

Sekitar 3.100 kapal dilaporkan telah memasang sistem scrubber. Beberapa kapal menggunakan bahan bakar alternatif rendah sulfur seperti LNG dan Biofuel.

Baca: LNG dan Fuel Cells, Energi Penggerak Kapal di Masa Depan?

Kesehatan Dunia

IMO 2020 dengan batas atas sulfur 0,5 persen diperkirakan akan menurunkan emisi sulfur oksida dari kapal hingga 77 persen, setara dengan 8,5 juta metrik ton SOx. Gas sulfur oksida terkait dengan penyakit asma, paru-paru, kardiovaskular, dan pernapasan. Oleh karena itu, mengurangi emisi gas ini akan meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di dekat pelabuhan dan pantai, serta berkontribusi mencegah kematian dini.

Sebuah studi tentang dampak emisi SOx dari kapal terhadap kesehatan, oleh Finnish Meteorological Institute (FMI), memperkirakan bahwa jika pada tahun 2020 tidak dilakukan pembatasan emisi SOx, maka polusi udara dari industri pelayaran akan berkontribusi terhadap penambahan lebih dari 570.000 kematian dini di seluruh dunia antara tahun 2020-2025. [AS]