Home Berita Strategi Nir Emisi 2050: Indonesia Andalkan Bio Diesel untuk Energi Non Listrik

Strategi Nir Emisi 2050: Indonesia Andalkan Bio Diesel untuk Energi Non Listrik

184
0
SHARE

JMOL. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menyatakan pemerintah tidak akan mengorbankan lingkungan demi ekonomi. Pemerintah selalu mencari equilibrium yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Indonesia. Untuk itu, Indonesia berkomitmen memajukan penggunaaan energi baru terbarukan atau EBT.

“Kami tidak akan pernah membuat kebijakan yang mencederai anak cucu kami,” ujar Menko Luhut dalam Diskusi Panel Institute Essential Services Reform (IESR) bertema Strategi Indonesia Menuju Perekonomian Nir Emisi 2050, di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Potensi EBT di Indonesia sangat besar dan belum digarap optimal. Panas Bumi dari yang tersedia 17,5 GW dan pemanfaatan baru 1,95 GW, Mikro Hidro potensi sebesar 94,3 GW pemanfaatan hanya 0,03 GW, Bio Energi potensi 32,6 GW dan pemanfaatan hanya 1,859 GW.

Menko Luhut menyampaikan pemerintah memiliki program Bio Diesel untuk meningkatkan pemenuhan EBT non-listrik. Program ini dimulai sejak tahun 2006 yaitu B7,5, B20 di tahun 2018 dan B50 ditargetkan akan dimulai pada tahun 2020.

“Per 1 Desember Indonesia akan masuk ke B30, tahun depan B40, lanjut B50, kemudian B100. Setelah itu berjalan lancar, akan terjadi equlibrium, dimana jumlah produksi kelapa sawit hampir setara dengan penggunaan dalam negeri”. ujar Menko Luhut.

Dampaknya, 17,5 juta petani sawit Indonesia akan menikmati harga sawit yang bagus, dan membuat angka kemiskinan akan menurun,” tambah Menko Luhut.

Indonesia juga berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29 persen. Dikerjakan oleh Pemerintah secara sungguh-sungguh, di antaranya melalui program re-planting, rehabilitasi mangrove dan peat land (lahan gambut) dan lainnya.

Indonesia memiliki lahan gambut seluas 7,5 juta hektar, yang dalam kondisi yang masih baik. Ada 3,1 juta hektar mangrove namun setengahnya sudah rusak. Menko mengatakan Indonesia melakukan program re-planting, forestry, dan rehabilitasi coral reef.

“Saat ini, kontribusi Carbon credit Indonesia sudah mencapai kira-kira 75-80 persen. Angka yang cukup besar” kata Menko Luhut.

Berdasarkan temuan Brown to Green Report 2019 diterbitkan oleh Climate Transparency, emisi CO2 terkait energi di negara-negara anggota G20 melonjak 1,8 persen pada 2018 karena meningkatnya permintaan energi. Sementara, emisi transportasi meningkat 1,2 persen pada tahun 2018. [JB]