Home Berita Sektor Logistik Tahun 2020, Pertumbuhan dan Tantangan

Sektor Logistik Tahun 2020, Pertumbuhan dan Tantangan

286
1
SHARE

JMOL. Sektor logistik, yang mencakup transportasi dan pergudangan, diprediksi akan tumbuh sebesar 9,18 persen di tahun 2020. Menurun dari pertumbuhan sektor tersebut di tahun ini (2019) yang sebesar 11,56 persen. Demikian menurut Setijadi, Chairman
Supply Chain Indonesia(SCI) dalam rilisnya yang diterima redaksi pagi ini (3/12).

Perkembangan sektor logistik Indonesia dipengaruhi berbagai faktor, yaitu jumlah penduduk yang besar (sekitar 267 juta jiwa), tingkat pertumbuhan ekonomi (sekitar 5,3 persen), wilayah yang luas sekitar 1,9 juta km2, bentuk geografis kepulauan dengan 17.504 pulau, serta keragaman komoditas dan budaya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi lapangan usaha sektor logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II/ 2019 adalah sebesar Rp 220,6 triliun atau 5,57 persen dari PDB yang bernilai Rp 3.963,5 triliun.

Berdasarkan analisis SCI, sektor logistik sepanjang tahun 2019 diprediksi tumbuh sebesar 11,56 persen menjadi Rp 889,4 triliun, dan pada tahun 2020 tumbuh sebesar 9,18 persen dengan nilai Rp 971 triliun. Darinya, subsektor transportasi akan tumbuh sebesar 8,97 persen (Rp 806,8 triliun) dan subsektor pergudangan tumbuh sebesar 9.8 persen (Rp 161,9 triliun).

E-commerce

Perkembangan e-commerce menjadi faktor pendorong pertumbuhan logistik Indonesia.

“Pengaruh signifikannya dapat dilihat dari pertumbuhan volume transportasi udara sebagai moda yang paling banyak digunakan untuk e-commerce”, jelas Setijadi.

Kontribusi transportasi udara terhadap PDB meningkat dari 35,90 persen pada 2017 menjadi 36,10 persen pada 2018. SCI memprediksi kontribusi itu pada 2019 akan mencapai 38,12 persen, dan pada tahun 2020 mencapai 39,25 persen, dengan nilai sebesar Rp 316,7 triliun.

Baca: Industri Kargo Udara Indonesia

Tantangan Logistik 2020

Tantangan sektor logistik Indonesia termasuk pada tahun 2020 antara lain kebutuhan penanganan terhadap barang kebutuhan pokok yang sebagian besar komoditasnya bersifat perishable, musiman, dan rantai distribusi yang panjang. Selain itu, tantangan lainnya adalah ketersebaran produksi dan skala ekonomi, serta kontinuitas, kualitas, dan ketertelusuran yang kurang terjamin

Tantangan lainnya adalah pemahaman para pelaku terhadap SCM, integrasi para pelaku usaha dan pihak terkait, infrastruktur belum memadai, serta data dan sistem informasi logistik yang belum terintegrasi.

Sektor logistik Indonesia juga belum mempunyai atau menerapkan standardisasi, baik untuk transportasi dan pergudangan. Standardisasi yang dimaksud di atas mencakup pada proses, teknologi, dan personil. Pada aspek personil, misalnya, personil (bekerja di perusahaan jasa logistik) yang bersertifikasi Supply Chain Manager (Kepmenaker No. 94 Tahun 2019), masih sangat sedikit, yaitu baru sekitar 100 orang. Standardisasi diperlukan untuk efisiensi logistik dan menjadi syarat penerapan digitalisasi dalam proses-proses logistik.

Berkaitan dengan infrastruktur, tantangan yang dihadapi berkaitan dengan upaya peningkatan konektivitas nasional karena tuntutan terhadap infrastruktur tidak hanya mengenai kualitas, tetapi juga kapasitas dan konektivitas. Oleh karena itu, aktivitas logistik memerlukan infrastruktur yang mampu menjadi backbone operasi transportasi yang efisien dengan kualitas yang baik.

‘Perlu pembangunan infrastruktur secara terintegrasi, baik antar moda transportasi maupun antar wilayah, sehingga lebih menjamin efektivitas pemanfaatannya”, tutup Setijadi. [AS]