Home Berita SCI: Sinergi Tol Laut dan Sektor Perikanan Dapat Atasi Problem Imbalance Trade

SCI: Sinergi Tol Laut dan Sektor Perikanan Dapat Atasi Problem Imbalance Trade

529
1
SHARE

JMOL. Supply Chain Indonesia (SCI) mengapresiasi rencana Program Kerja Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tahun 2020 khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) dalam memperkuat konektivitas antar wilayah Indonesia melalui Program Tol Laut. Menurut Chairman SCI, Setijadi, dukungan Program Tol Laut terhadap kawasan perikanan terpadu merupakan bentuk sinergi yang sangat baik antara Kemenhub dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Sinergi tersebut perlu terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya ikan, terutama dalam proses pendistribusian dari sentra-sentra produksi ke sentra-sentra konsumsi, baik untuk masyarakat maupun industri pengolahan ikan (UPI), serta ekspor,” kata Setijadi kepada Redaksi (15/12).

Untuk diketahui, pada tahun 2020 Ditjen Perhubungan Laut akan menyediakan kontainer berpendingin (reefer container) di sejumlah lokasi yang dilintasi trayek Tol Laut, yaitu Sabang (Trayek-1), Mentawai (T-2), Sebatik (T-4), Timika (T-11), dan Rote (T-13), masing-masing sebanyak 5 kontainer.

Baca: Tahun 2020, DJPL Fokus Konektivitas Laut bagi Kawasan Strategis

Namun, berdasarkan analisis SCI, dibutuhkan kontainer dalam jumlah yang lebih besar untuk memfasilitasi kapal perikanan yang berjumlah ratusan.

“Seperti di Mimika, dan di beberapa lokasi lainnya bahkan diperlukan sampai 50 kontainer,” jelas Setijadi.

Selain kebutuhan kontainer, diperlukan pengembangan infrastruktur seperti perbaikan dermaga dan penyediaan plugging di pelabuhan, terutama di Kawasan Timur Indonesia. Diperlukan juga kesiapan SDM untuk menangani kontainer berpendingin, baik di pelabuhan maupun kapal. Turunnya kualitas ikan akibat proses distribusi masih dikeluhkan oleh sejumlah pihak.

Muatan Balik

SCI juga menyarankan Kemenhub perlu mempertimbangkan penambahan trayek Tol Laut. Beberapa wilayah yang belum dilintasi trayek Tol Laut memiliki potensi ikan yang cukup banyak seperti di Dobo, Kepulauan Aru. Berdasarkan catatan SCI, Dobo termasuk Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPPI) 718 dengan potensi terbesar, yaitu sebanyak 2.637.565 ton.

Implementasi Program Tol Laut terhadap kawasan perikanan terpadu membutuhkan dukungan secara sinergis dari kementerian/lembaga terkait, pelaku usaha, penyedia jasa logistik dan transportasi, hingga pemerintah daerah.

Pemerintah daerah yang dilalui Program Tol Laut perlu memanfaatkannya dalam pengembangan komoditas perikanan wilayahnya, karena berpotensi meningkatkan muatan balik yang selama ini menjadi masalah utama Program Tol Laut. Pada semester I tahun 2019, misalnya, muatan berangkat Tol Laut sebanyak 2.986 TEU’s, namun muatan balik hanya 267 TEU’s atau 8,94% dari muatan berangkat. [AS]

1 COMMENT

Comments are closed.