Home Artikel Review of Maritime Transport 2018: Struktur dan Kepemilikan Armada Pelayaran Dunia

Review of Maritime Transport 2018: Struktur dan Kepemilikan Armada Pelayaran Dunia

511
0
SHARE

JMOL. UNCTAD menerbitkan Review of Maritime Transport (RMT) yang terbaru pada 3 Oktober 2018. Laporan ini, salah satunya, mencatat perkembangan struktur dan kepemilikan armada pelayaran dunia sepanjang tahun 2017. Berikut beberapa fakta penting dalam RMT 2018..

Jumlah armada kapal niaga (merchant fleet) di dunia per 1 Januari 2018 adalah 94171 unit, dengan total tonase 1,92 milyar DWT. Dengan pertumbuhan kapasitas angkut sebesar 3,3 persen (supply) dan seaborne trade yang tumbuh 4 persen (demand), berpotensi mendorong kenaikan tarif angkut (freight rate) pada semua jenis kapal, kecuali tanker.

Dari total jumlah kapal di atas, populasi terbanyak adalah jenis Dry Bulk Carrier, sebesar 42,5 persen by dwt. Disusul jenis tanker (29,2) dan kontainer (13,1). Kapal dry bulk carrier tumbuh 20 juta dwt sepanjang 2017. Namun secara growth, kapal jenis gas carrier yang terbesar, mencapai 7 persen dibanding tahun 2016.

Ukuran Kapal kontainer semakin besar. Per Juni 2018, terdapat 18 pelayaran per minggu pada rute Far East–Northern Europe. Angka ini turun drastis dari 32 per minggu pada 2008. Menunjukkan ukuran kapal yang dioperasikan semakin besar, rata-rata 15,000 TEU. Kapal kontainer terbesar yaitu 21,400 TEU sudah beroperasi melayani rute ini pada tahun 2017.

Fleet ownership by dwt atau kepemilikan kapal secara tonase adalah Yunani (17,3%), Jepang (11,7%), China (9,6%), dan Jerman (5,6%). Kapal milik China tercatat 5512 unit, terbanyak di dunia secara populasi. Disusul Yunani (4371), Jepang (3841), Jerman (2869), dan Singapura (2629). Indonesia berada pada peringkat ke-8 dengan 1948 unit kapal. Namun berada pada peringkat ke-20 jika dihitung berdasarkan tonase (20 juta dwt). Perlu diketahui bahwa yang diperhitungkan oleh UNCTAD adalah kapal berukuran 1000 GT ke atas.

Sepanjang tahun 2017, tercatat 65 juta gross tons (gt) kapal baru yang selesai dibangun. Sementara kapal yang di-scrap alias dibesi-tuakan mencapai 23 juta gt.

China (23,3 juta gt), Korsel (22,5 juta gt), dan Jepang (12,9 juta gt) mendominasi industri galangan kapal dunia. Lebih 90 persen by gt kapal baru dibangun oleh industri galangan kapal yang berada di ketiga negara tersebut. Negara Asean Filipina berada di peringkat ke-4, nanun dengan angka yang terpaut jauh, sebesar 1,98 juta gt.

Di negara mana kapal paling banyak dibesi-tuakan? India masih memimpin dalam industri ship scrapping ini dengan 6,3 juta gt. Disusul ketat oleh Bangladesh (6.2 juta gt).dan Pakistan (3,5 juta gt).

Detil tentang struktur industri pelayaran dunia, yang mencakup populasi, kapasitas, jenis, kepemilikan, dan galangan kapal dapat dilihat pada publikasi Review of Maritime Transport 2018 di situs resmi UNCTAD. [AS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.