Home Berita Ratusan Ribu Pelaut Terjebak di Kapal. 8 Organisasi PBB Desak Penyelesaian Krisis...

Ratusan Ribu Pelaut Terjebak di Kapal. 8 Organisasi PBB Desak Penyelesaian Krisis Crew Change

2447
1
SHARE

JMOL. Delapan organisasi internasional di bawah PBB mengeluarkan pernyataan bersama (10/9/2020) mendesak seluruh Negara-negara Anggota PBB untuk mengambil tindakan segera untuk mengatasi masalah pergantian awak kapal (crew change).

Pernyataan bersama ditandatangani oleh 8 pimpinan organisasi, yaitu: Direktur Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Sekretaris Jenderal Konferensi Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Direktur Jenderal Organisasi Migrasi Internasional (IOM), Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Sekretaris Jenderal Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), Pimpinan United Nations Global Compact (UNGC), dan Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Unduh Penyataan Bersama di sini

Pernyataan Bersama mendesak semua negara untuk mengakui pelaut sebagai pekerja kunci dan menghilangkan segala hambatan terhadap proses pergantian pelaut, sehingga dapat mengatasi krisis kemanusiaan, memastikan keselamatan maritim, dan memfasilitasi upaya pemulihan ekonomi dari Pandemi covid-19.

Negara-negara diminta mengkoordinasikan langkah-langkah menghilangkan hambatan dengan (terutama) melibatkan otoritas kesehatan, imigrasi, otoritas perbatasan dan maritim, baik di tingkat nasional maupun lokal, serta semua pihak yang terkait di pelabuhan dan bandara.

Seperti kita ketahui, Pandemi Covid-19 berdampak kepada pelanggaran hak-hak pelaut dan pemulihan ekonomi dunia. Sekitar 300 ribu pelaut (seafarers, mereka yang bekerja di atas kapal) kini ‘terjebak’ di atas kapal karena tidak bisa diganti dan tidak bisa pulang. Mereka sudah bekerja di atas kapal melebihi waktu yang wajar, melampaui kontrak kerja, dan yang diijinkan atas alasan kesehatan dan psikologi. IMO, ILO, dan ITF menerima ribuan keluhan dan pengaduan dari pelaut dan kelurganya.

Kelelahan fisik dan mental yang dialami pelaut adalah pelanggaran kemanusian.  berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan kecelakaan kapal, yang (jika terjadi) akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan laut, mengganggu arus barang dan selanjutnya menghambat pemulihan ekonomi dunia.

Menyelesaikan krisis crew change akan mencegah bencana kemanusiaan, yang mempengaruhi keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan laut, keberlanjutan perdagangan yang efisien, dan pemulihan ekonomi dunia. Demikian argumen utama pernyataan bersama tersebut. [AS]