Home Artikel Prospek Methanol, Bahan Bakar Kapal Ramah Lingkungan

Prospek Methanol, Bahan Bakar Kapal Ramah Lingkungan

1137
1
SHARE

JMOL. Salah satu strategi IMO untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca pada 2050 adalah dengan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Sebagaimana tabel di bawah ini menggambarkan target pengurangan emisi tersebut menjadi upaya setiap negara anggota.

Sumber: Registro Italiano Navale (RINA)

Methanol (methil alkohol) atau alkohol kayu (wood alcohol), dengan rumus kimia CH3OH, adalah salah satu bahan bakar ramah lingkungan yang sangat potensial. Di dunia kemaritiman, methanol telah diteliti oleh para ahli bahwa bahan bakar ini berpotensi untuk menyelamatkan planet bumi dari emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.

Eko Maja Priyanto, atau akrab dipanggil Eko, adalah seorang karyawan BKI lulusan World Maritime University/WMU Swedia, tahun 2017, yang meneliti prospek methanol sebagai energi bahan bakar kapal alternatif yang ramah lingkungan.

Alasan memilih methanol sebagai topik penelitiannya, menurut Eko karena bahan bakar alternatif ini termasuk kandidat kuat bahan bakar baru kapal guna mencapai target IMO 2050 (zero carbon emission).

“Sebenarnya secara keekonomian potensi methanol sangat besar mengingat ia tidak melibatkan suhu yang sangat rendah, sehingga tidak memerlukan infrastruktur dan peralatan yang bersifat cryogenic, yang sangat mahal itu”,  jelas Eko saat dihubungi Jurnal Maritim, Jumat (7/5/2021).

Eko menambahkan, karena tidak melibatkan suhu sangat rendah maka Methanol mudah penanganannya serta bila tumpah ke laut tidak berbahaya bagi lingkungan, dan dapat terdegradasi langsung kurang dari 7 hari sehingga tidak mengganggu biota laut.

“Sedangkan vapornya yang terlepas ke udara dapat terurai oleh sinar matahari kurang dari 4 hari,” tambahnya.

Methanol tidak berbahaya yang dikira orang saat ini, namun perlu penanganan khusus apabila mengalami tumpahan, misalnya dengan menggunakan personal protection equipment, dan tidak sampai menyentuh kulit dalam jumlah yang besar.

“Ini sama saja halnya dengan ketika seseorang terpapar bensin dalam jumlah banyak pada kulitnya. Harus segera ditangani secepat mungkin karena beresiko menimbulkan karsinogen,” ujar Eko.

Di Swedia, negara dimana WMU berada, aktif melakukan upaya bagaimana methanol dapat benar-benar hadir dalam aplikasi nyata dan memiliki nilai keekonomiannya yang kompetitif dan efisien. Sebut saja salah satu program kapal Stena Germanika yang menjadi andalan pemerintah Swedia 2017. Eko berkesempatan untuk hadir dalam workshop Green Pilot yaitu proyek konversi kapal coast guard milik Pemerintah Swedia menjadi berbahan bakar Methanol, dan mendapatkan akses data terkait methanol yang menjadi bahan penelitiannya.

Peta Jalan Methanol

Selain gas alam dan batu bara, Indonesia banyak sekali sumber potensial untuk bahan baku methanol, diantaranya biomass, industri gula, kelapa sawit, bahkan sampah organik. Indonesia bisa mengambil peran yang aktif dalam program decarbonisasi IMO 2050 melalui penerapan methanol.

Menurut Eko, ada 3 langkah utama yang dapat diajukan yaitu jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Langkah jangka pendeknya adalah membangun kepercayaan dari pasar dengan inisiatif preliminary study, memberikan dukungan finansial berupa grant atau dana hibah kepada stake holder (akademisi dan institusi riset , pabrikan mesin, produser methanol, perusahaan pelayaran, dan pihak terkait) dalam pengembangan riset, serta kerja sama pengembangan regulasi keselamatan untuk kapal berbahan bakar methanol yang melibatkan Kementerian dan Badan Klasifikasi.

Langkah jangka menengah adalah pengembangan kebijakan energi yang kuat dan memasukkan methanol ke dalam peta jalan nasioal bahan bakar alternatif transportasi di Indonesia. Dimana kebijakan energi ini dapat mencakup skema insentif, alokasi suplai bahan bakar methanol, kerangka kerja koordinasi antar kementrian, serta tanggung jawab explisit dari institusi yang terlibat. Pada tahap ini juga masih berkonsentrasi dan optimalisasi pemanfaatan batu bara dan gas alam, yang tidak terserap oleh pasar domestik dan internasional, sebagai bahan baku methanol

Langkah jangka panjangnya adalah mulai memanfaatkan bahan baku yang dapat diperbarui dan berkelanjutan seperti biomass, sampah organik industri, serta dari sampah kota.

“Untuk sampah kota memang perlu edukasi serta peran serta masyarakat yang solid terhadap budaya masyarakat dalam memilah sampah,” ujar Eko.

Peran Pemerintah

Pemerintah negara-negara di Eropa sangat berperan dalam implementasi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Mereka memberi subsidi 50% sampai 100% untuk pengembangan teknologinya, baik itu riset, modelling, sampai full scale untuk proyek-proyek strategis yang bertujuan mendukung kegiatan transportasi laut yang ramah lingkungan.

“Di Eropa, pemerintahnya menjadi lead (leader/memimpin) baik dari sisi riset awal, sampai penerapannya,” ujar eko.

Pemerintah di Eropa juga aktif membuat regulasi yang mendukung dan mendorong baik dalam hal produksi maupun penerapan teknologinya. Dengan adanya riset dan aturan yang jelas, maka diharapkan pasar akan tertarik dan pemerintah lalu lebih mendorong dengan memberikan subsidi khusus kepada perusahaan pelayaran yang mau menjadi pioneer.

Atas karya tulisnya “The Potential of Methanol as an alternative marine fuel for Indonesian domestic shipping”, Eko memperoleh penghargaan dari The Royal Institute of Naval Architecht/RINA, Inggris.

Pada acara annual general meeting yang digelar online 29 April 2021 lalu, RINA menyebutkan: The Ian Telfer Prize for the best published paper on energy or the environment related issues by an author under the age of 35 is awarded to Eko M Priyanto for their paper The Potential of Methanol as an alternative marine fuel for Indonesian domestic shipping. Selamat untuk Eko Maja Priyanto. (AR)

1 COMMENT

Comments are closed.