Home Artikel Pengembangan Kawasan Barat Teluk Lamong: Butuh Peran BBWS Bengawan Solo

Pengembangan Kawasan Barat Teluk Lamong: Butuh Peran BBWS Bengawan Solo

508
0
SHARE

JMOL. Keberadaan TUKS di sungai Kali Lamong dinilai mengganggu perekonomian di wilayah tersebut. Lalu lintas barge/tongkang dari/ke TUKS milik PT JMAR yang melewati sungai Kali Lamong telah menimbulkan pencemaran, meningkatkan sedimentasi, mengganggu alur pelayaran nelayan, serta merusak kawasan mangrove di pulau Galang yang berada di depan muara Sungai Kali Lamong.

Demikian ungkapan masalah dalam “Rembug” daring bertajuk “Pengembangan Kawasan Barat Teluk Lamong” yang digelar IKA ITS-Komjur MMT (Magister Manajemen Teknologi). Redaksi menerima rilis tentang diskusi tersebut pada Jumat kemarin (10/7).

Dari ‘Webrembug’, terungkap bahwa kondisi Pesisir Teluk Lamong Bagian Barat yaitu mengalami sedimentasi yang tinggi. Membuat draft saat kondisi surut hanya 50 cm LWS, dengan kualitas air yang keruh. Perwakilan dari nelayan Teluk Lamong mengeluhkan menurunnya hasil tangkapan. Angkutan tongkang dari/ke TUKS membuat Kali Lamong semakin padat. Mengganggu nelayan Surabaya di Romokalisari dan nelayan Gresik.

Para peserta Webrembug mempertanyakan keberadaan TUKS di sungai Lamong, yang dinilai menjadi penyebab perubahan pola angkutan di sungai tersebut. Sayangnya, BBWS Bengawan Solo sebagai otoritas pengelola Kali Lamong tidak hadir.

Untuk pembahasan keberadaan TUKS dan alur pelayaran tongkang tersebut, peserta mendesak Dishub Pemkab gresik dan Dishub Pemko Surabaya agar segera berkoordinasi dengan BBWS Bengawan Solo dan Dishub provinsi Jawa Timur.

Selain itu, dampak reklamasi TTL terhadap perubahan pola arus pasang surut, perubahan pola angkutan, dan sedimentasi di Teluk Lamong bagian barat akan dibahas pada seri diskusi berikutnya.

Potret Kota Maritim

Para peserta memiliki kesamaan pandangan, bahwa kawasan barat Teluk Lamong ini memiliki potensi ekonomi kreatif dan pariwisata. Bahkan Badan Perencanaan dan Pendapatan (Bapeko) Surabaya, meyakini kawasan Teluk Lamong sisi barat ini dapat menjadi kawasan edupark maritim yang komplit. Ada kampung nelayan, vegetasi mangrove, hingga pelabuhan skala international. Kawasan Teluk Lamong berpotensi besar  menjadi potret Surabaya sebagai kota maritim.

“Untuk itu, Pelindo 3 (PT Terminal Teluk Lamong) dapat berkontribusi, melalui kerjasama dengan Kota Surabaya dalam mengurangi dampak ekonomi akibat alih fungsi kawasan teluk yang sebelumnya adalah tempat para nelayan mencari ikan”, kata Dr. Fachrul Kurniawan, Ketua IKA ITS-Komjur MMT.

Kawasan Teluk Lamong seluas 16 km2 meliputi kawasan perairan teluk dan pesisir sepanjang 6,3 mil, dimana terdapat enam sungai yang bermuara di teluk tersebut. Termasuk yang berada dalam kawasan ini adalah Sentra ikan Romosari (SIR) dan Pulau Galang yang merupakan delta seluas 6 ha yang terbentuk karena aliran sungai Kali Lamong.

Sungai-sungai yang bermuara di Teluk Lamong tersebut antara lain: Kali Lamong, Kali Sememi, Kali Branjangan, Kali Manukan, Kali Krembangan dan Kali Mas. Kelima sungai ini merupakan pemasok sedimentasi. Pulau Galang yang berada di Muara Kali Lamong yang merupakan kawasan konservasi yang dilindungi karena selain ditumbuhi vegetasi bakau, juga merupakan endemik satwa burung-burung jenis langka.

Kawasan Teluk Lamong berada di antara pelabuhan Perak di sebelah timur dan selatan (Kota Surabaya) dan kawasan industri padat yang dilengkapi TUKS di sebelah barat dan utara (Kabupaten Gresik). Sejak tahun 2014, terbangun kontruksi pelabuhan Terminal Teluk Lamong (TTL) yang membelah teluk Lamong. Dua pertiga kawasan berada di sisi timur TTL, sementara sisanya berada di sisi barat. [AYU]