Home Berita Pelabuhan Tanjung Carat, Gerbang Baru Maritim Sumsel, Ground Breaking Tahun ini

Pelabuhan Tanjung Carat, Gerbang Baru Maritim Sumsel, Ground Breaking Tahun ini

753
0
SHARE

JMOL. Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat akan dimulai (ground breaking) pada tahun 2021 ini dan ditargetkan selesai pada tahun 2023. Demikian dikatakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Desa Sungsang Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, (20/2).

Lokasi pelabuhan di Tanjung Carat tersebut sudah memenuhi 3 kriteria, yaitu Pertama, memiliki kedalaman air yang cukup yaitu 12-18 meter sehingga bisa disinggahi kapal-kapal berukuran besar. Kedua, terjangkau. Ketiga, ketersedian lahan, saat ini sudah siap untuk dilakukan pembangunan pelabuhan.

Skema pembiayaan, apakah solicited atau unsolicited, masih menunggu hasil pembahasan oleh pihak Kemenhub, Kemenkomarves, Kemenko Perekonomian, Bappenas dan pihak terkait lainnya.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Daru mengatakan (20/2), Pelabuhan Tanjung Carat ini sangat penting untuk menunjang perdagangan Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki komoditi unggulan seperti batu bara, curah cair, karet, dan pupuk, dan sebagainya. Pelabuhan Palembang Baru ini akan menjadi pusat logistik menggantikan Pelabuhan Boom Baru yang sudah tidak bisa dikembangkan lagi karena lokasinya berada di tengah kota, dan terus mengalami pendangkalan (sedimentasi) sehingga tidak bisa disinggahi kapal-kapal berukuran besar. Nantinya Pelabuhan Boom Baru akan difungsikan sebagai pelabuhan penumpang.

Inisiatif Lama

Secara administratif, Tanjung Carat berada di desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis, kawasan Tanjung Carat adalah areal di ujung Kawasan Tanjung Api-Api yang terletak di pertemuan muara Sungai Banyuasin di sebelah kiri dan Sungai Musi di sebelah kanan dengan Perairan Selat Bangka.

Keinginan Sumsel memiliki pelabuhan laut dalam di Tanjung Carat sudah cukup lama. Dalam PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional, kawasan Tanjung Api-api (seluas 12 360 hektar) ditetapkan sebagai sistem transportasi pelabuhan internasional dalam satu sistem dengan pelabuhan Palembang.

Selanjutnya dalam RTRW Propinsi Sumsel, kawasan Tanjung Api-api ditetapkan sebagai kawasan strategis propinsi, dimana Tanjung Carat ada di dalamnya dan diproyeksikan sebagai pusat industri dan pelabuhan internasional.

Studi Kawasan Strategis Tanjung Carat dilakukan oleh Propinsi Sumsel pada tahun 2012, yang berisi kelayakan reklamasi pantai yang menjadi dasar bagi pengembangan kawasan tersebut. Pada tahun 2014, kawasan strategis propinsi tersebut ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api melalui Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2014.

Pada September 2020, Pemprov Sumsel memutuskan menunda pembangunan KEK Tanjung Api-Api dan mendahulukan pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat. Alasannya, tanpa adanya KEK pun, pertumbuhan volume cargo ekspor Sumsel saat ini sudah tidak mampu ditangani oleh pelabuhan existing, terutama pelabuhan Boom Baru.

Untuk diketahui, arus ekspor-impor Sumsel dilakukan melalui empat pelabuhan, yaitu (1). Boom Baru, (2). Palembang Plaju, (3). Palembang-Kertapati dan (4). Sultan Mahmud Badaruddin II (udara). Dimana sekitar 90 persen lebih berdasarkan nilainya, dilakukan melalui pelabuhan Boom Baru.

Berdasarkan data BPS Sumsel tahun 2019, nilai ekspor tertinggi dari pelabuhan Boom Baru mencapai 3,30 milyar dollar AS atau sekitar 91 persen dari total ekspor. Sementara nilai barang impor yang dibongkar di pelabuhan tepi sungai Musi tersebut mencapai sekitar 462,93 juta dollar AS atau 90,48 persen dari total nilai impor Sumatera Selatan.

Selain itu, masih menurut BPS Sumsel, pada tahun 2020 arus ekspor produk Sumsel yang melalui pelabuhan luar Sumsel mencapai 20,74 persen dari total ekspor. Angka ini meningkat dari 13,85 persen pada tahun 2019 lalu. Oleh karena itu, kehadiran Tanjung Carat nanti, berikut infrastruktur konektivitasnya, diharapkan tidak hanya mengambil alih bongkar muat barang dari pelabuhan Boom Baru, tapi juga mampu menangani arus barang yang selama ini mengalir melalui pelabuhan di luar propinsi Sumsel. [AS]