Home Artikel Mungkinkah Afghanistan Menjadi Kekuatan Maritim?

Mungkinkah Afghanistan Menjadi Kekuatan Maritim?

454
1
SHARE

Oleh Siswanto Rusdi
Direktur The National Maritime Institute (Namarin)

Afghanistan secara geografis adalah negeri yang dikelilingi oleh daratan atau landlocked state bahasa Inggrisnya. Tidak ada pantai atau laut yang menghampirinya. Menurut data, selain Afganistan saat ini ada 44 negara yang digolongkan ke dalam kategori dimaksud. Dengan kondisinya yang seperti itu, muncul berita di berbagai media yang memprediksi bahwa pola pelayaran (shipping pattern) dunia, khususnya di Asia Tengah, akan mengalami perubahan yang cukup signifikan dengan hadirnya negara tersebut dalam kancah kemaritiman mondial.

Bagaimana bisa sebuah negara yang tidak memiliki laut – dan tidak memiliki pelabuhan – dapat mengubah shipping pattern? Mengacu kepada United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, Afghanistan, begitu pula negara-negara landlock lainnya, dapat menjadi pelaku dalam ranah kemaritiman dan memanfaatkan potensi laut yang ada. Hak pemanfaatan ini derajatnya setara dengan negara yang memiliki laut (Coastal State). Jadi, bisa saja Afghanistan ikut mewarnai dunia kemaritiman. Silahkan lihat UNCLOS 1982 part X Pasal 124-132 mengatur tentang Landlock State.

Menyitir UNCLOS, negara-negara landlocked bisa berkiprah di kemaritiman melalui tetangganya yang memiliki laut dan si tetangga ini harus (melalui perjanjian) memberi akses kepada negara yang tanpa laut tadi. Setidaknya, ada dua opsi akses laut bagi Afghanistan. Yang pertama pelabuhan Chabahar di Iran dan Gwadar di Pakistan. Dalam istilah UNCLOS, Iran dan Afghanistan disebut Transit State. Terserah Afghanistan memilih yang mana, atau malah keduanya.

Sepanjang pengetahuan penulis, Afghanistan sudah cukup lama terlibat dalam pemanfaatan pelabuhan Chabahar. Ini dilakukannya bersama dengan Iran dan India yang sudah terlebih dahulu mengembangkan pelabuhan ini. Sementara dengan pelabuhan Gwadar, salah satu proyek kunci Negara Tirai Bambu itu dalam megaproyek Belt and Road Initiative (BRI), Afghanistan belum terlibat sama sekali. Kendati demikian, banyak pihak yang meramalkan bahwa Afghanistan sepertinya akan memilih Gwadar sebagai aksesnya ke laut lepas. Baik Iran, India dan China sudah mengisyaratkan dukungan atas pemerintahan yang akan dibentuk oleh Taliban. Ketiga negara itu juga siap bekerja sama di segala bidang termasuk bidang kemaritiman (pelabuhan dan pelayaran).

Apa yang Afghanistan miliki sehingga ia menjadi rebutan? Yang pasti adalah posisinya yang amat strategis, yaitu di persimpangan rute perdagangan legendaris: Jalur Sutra. Afghanistan, walau landlock state, juga berperan menjadi transit state bagi negara-negara di sebelah utaranya; Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Kazaktan. Lebih dari itu, Afghanistan dapat menjadi “transit state” bagi provinsi paling barat China: Xinjiang. Dalam istilah geopolitik, Afghanistan (dan Pakistan) adalah akses China ke Samudera Hindia.

Dengan modal posisi ‘hub’nya tersebut, Afghanistan memiliki daya tawar bagi pelayaran dunia untuk sandar di pelabuhan Chabahar atau Gwadar untuk mengangkut barang/komoditas yang dihimpun dari pemilik barang seantero Asia Tengah yang luas itu. Inilah yang dimaksud “mengubah shipping pattern” itu. Mari Kita Tunggu. [Editor: AS]

1 COMMENT

Comments are closed.