Home Artikel Membangun Sistem Logistik Tanggap Darurat Pandemi COVID-19

Membangun Sistem Logistik Tanggap Darurat Pandemi COVID-19

3383
0
SHARE

Oleh: Setijadi, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI)

Untuk menekan penyebaran wabah Covid-19, pergerakan barang dan manusia harus dibatasi sekaligus dikendalikan, baik pada wilayah yang telah maupun belum/tidak menetapkan status tanggap darurat bencana. Namun, karena ketersediaan barang kebutuhan pokok tetap harus terpenuhi maka diperlukan sebuah sistem logistik yang menjamin pendistribusiannya dengan tetap meminimalkan potensi penyebaran wabah.

Langkah awal dalam membangun sistem logistik tanggap darurat bencana Covid-19 adalah melakukan pemetaan terhadap rantai pasok, baik permintaan maupun pasokannya.

Pemetaan permintaan mencakup: penentuan batas wilayah dan jumlah penduduk masing-masing wilayah, serta penentuan barang yang dibutuhkan (jenis dan volume).

Pemetaan pasokan mencakup: identifikasi dan penentuan sumber-sumber pasokan masing-masing jenis barang berikut kapasitasnya.

Dalam pemetaan juga harus diidentifikasi sistem distribusi yang akan digunakan, termasuk penentuan para pelaku (perusahaan-perusahaan) yang akan terlibat beserta jumlah, jenis, dan sebaran fasilitas-fasilitas distribusinya.

Frekuensi pembelian dan pengiriman dapat dikurangi dengan volume pemesanan yang tinggi. Namun harus mempertimbangkan kemampuan penyediaan pasokan. Jika stok terbatas, volume pembelian harus dibatasi.

Penentuan volume pembelian harus mempertimbangkan kelompok masyarakat yang terbatas dananya. Pertimbangan lain adalah kapasitas penyimpanan di rumah tangga dan ketahanan bahan pangan, seperti sayuran, yang juga terbatas.

Pemanfaatan Sistem Ritel

Karena untuk membangun sistem logistik yang baru membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang serta pendanaan yang besar, maka sebaiknya upaya itu dibarengi dengan pemanfaatan sistem distribusi yang sudah berjalan, misalnya sistem distribusi pasar modern.

Sistem distribusi pasar modern, berikut fasilitas distribusi (pusat distribusi dan jaringan toko) dan sistem operasionalnya sangat memungkinkan untuk mendukung sistem logistik pada situasi tanggap darurat bencana.

Sistem logistik yang dimaksud harus mampu meminimalkan kedatangan, pertemuan, dan kerumunan pembeli di toko ritel (minimarket dan supermarket) yang berpotensi meningkatkan penyebaran wabah Covid-19.

Sistem ini memposisikan jaringan toko ritel sebagai pusat distribusi di masing-masing wilayahnya dan menjalankan proses konsolidasi dan in-transit mixing. Toko ritel beroperasi seperti gudang tanpa kedatangan pembeli dengan driver transportasi online sebagai kurir.

Proses pemesanan dan pembayaran dilakukan secara online seperti yang sudah diterapkan dalam aplikasi transportasi seperti Grab dan Gojek. Tinggal dilengkapi dengan prosedur pengepakan dan pengantaran yang meminimalkan potensi penyebaran virus Corona.

Minimalisasi interaksi juga dilakukan dalam proses penyerahan barang kepada pemesan. Misalnya, driver cukup menaruh barang belanjaan di teras rumah pemesan.

Proses pengiriman barang harus memperhatikan keamanan operator pengiriman (supir truk, driver transportasi online, dll.) dari risiko penularan wabah. Mereka harus dilengkapi masker, hand sanitizer, dan bahan pembersih armada dan barang bawaan. Keamanan operator pengiriman ini sangat penting tidak hanya untuk mereka namun juga bagi petugas toko ritel, konsumen pembeli, dan masyarakat umum.

Sistem pembelanjaan secara online dapat mengurangi potensi penularan wabah terhadap pegawai toko ritel. Sistem ini dapat menjadi solusi mengatasi menurunnya omzet driver transportasi online akibat penurunan jumlah penumpang sebagai akibat kebijakan social distancing.

Terakhir, diperlukan sosialisasi sistem belanja tersebut secara masif dan segera, baik oleh pemerintah maupun pelaku bisnis (perusahaan ritel dan transportasi online) terkait. [AS]