Home Berita Maklumat Pelayaran untuk Perairan NTT: Waspada Hingga 7 Hari ke Depan

Maklumat Pelayaran untuk Perairan NTT: Waspada Hingga 7 Hari ke Depan

457
1
SHARE

JMOL. Kementerian Perhubungan menerbitkan Maklumat Pelayaran Nomor 44/PHBL/2021 tanggal 6 April perihal Waspada Bahaya Cuaca Ekstrim Dalam Tujuh Hari ke Depan. Maklumat berdasarkan hasil pemantauan BMKG yang memperkirakan cuaca ekstrim dengan gelombang tinggi lebih dari 6 meter masih terjadi di Samudera Hindia di sebelah selatan Nusa Tengggara Timur (NTT) pada 5 hingga 11 April 2021.

“Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal, diinstruksikan kepada seluruh Syahbandar agar meningkatkan pengawasan keselamatan dan melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap hari serta menyebarluaskan hasil pemantauan kepada pengguna jasa,” ujar Direktur KPLP Ahmad, hari ini (6/4).

Selain NTT, gelombang tinggi 4 – 6 meter juga diperkirakan terjadi di Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda Bagian Barat dan Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia Selatan Banten hingga Jawa Tengah, Perairan Pulau Sawu, Perairan Kupang Pulau Rote, dan Laut Sawu.

Sedangkan gelombang tinggi (2,5 – 4 meter) diperkirakan terjadi di Perairan Barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Bengkulu, Samudera Hindia Barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Selatan Jawa Tengah hingga Pulau Sumba, Selat Bali, Lombok, Alas Bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa Timur hingga NTB, Selat Sumba Bagian Barat, Perairan Selatan Flores, Selat Ombai, dan Laut Flores.

Maklumat memerintahkan para Syahbandar untuk tidak menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) hingga kondisi cuaca benar-benar aman untuk dilayari. Kegiatan bongkar muat barang harus diawasi secara berkala agar pelaksanaannya tertib dan lancar.

Para nakhoda diwajibkan untuk memantau kondisi cuaca, saat sebelum dan selama berlayar. Kemudian mengantisipasi, mencatat, dan melaporkannya kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat.

“Apabila saat berlayar terjadi cuaca buruk, kapal harus segera berlindung di tempat yang lebih aman dan segera melaporkannya kepada Syahbandar dan SROP,” kata Ahmad.

Kapal patroli KPLP dan kapal navigasi disiagakan jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan di laut dan segera memberikan pertolongan terhadap kapal yang mengalami musibah.

Dampak Bencana di NTT

Badai tropis Seroja yang melanda wilayah NTT pada 4/4/2021 telah mengakibatkan rusaknya infrastruktur dan fasilitas umum, termasuk sejumlah sarana dan prasarana pelabuhan dan kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut R. Agus H Purnomo menyebutkan, meskipun terdampak bencana, namun hingga saat ini ada sejumlah pelabuhan yang terpantau dalam kondisi baik-baik saja.

“Pelabuhan di wilayah NTT seperti Maumere, Lewoleba, Waingapu serta  Tenau (Kupang) dalam kondisi relatif baik meski gedung kantornya ada yang mengalami kerusakan. Namun Pelabuhan Baa dan Pelabuhan Biu terdampak bencana,” ujarnya.

Kerusakan yang dialami diantaranya berupa bangunan yang retak dan roboh sebagian. Beberapa kerusakan lainnya di sekitar pelabuhan terutama akibat gelombang pasang yang terus menerjang hingga saat ini.

“Pelabuhan Biu terkena dampak bencana yang paling parah akibat gelombang pasang yang terus menerjang selama beberapa hari hingga mengakibatkan jebolnya dermaga”, kata Agus.

Berdasarkan laporan yang diterima, ada kemungkinan masih terjadi kerusakan lainnya pada lantai dermaga Pelabuhan Biu, mengingat saat ini Wilayah NTT sedang terjadi badai La Lina yang menurut BMKG diperkirakan terjadi hingga bulan Mei 2021. [AS]