Home Artikel Koridor Maritim Laut Hitam untuk Atasi Krisis Pangan Dunia

Koridor Maritim Laut Hitam untuk Atasi Krisis Pangan Dunia

2986
0
SHARE

JMOL. Senin pagi 1 Agustus pukul 08:30 waktu setempat MV RAZONI (IMO 9086526) bertolak dari pelabuhan Odesa Ukraina. Mengangkut lebih dari 26 ribu metrik ton komoditi pangan, Bulk carrier GT berbendera Sieraa Leona ini menjadi kapal dagang (merchant ship) pertama yang melintasi Laut Hitam sejak perang Rusia – Ukraina meletus akhir Februari 2022.

Pembukaan kembali ekspor Ukraina adalah buah dari Black Sea Grain Initiative yang merupakan kesepakatan Rusia dan Ukraina, yang didukung Turki dan PBB. Peran Turki penting mengingat negara tersebut menguasai Selat Bosphorus yang merupakan kanal penghubung Laut Hitam dan Dunia.

Ukraina adalah salah satu eksportir grain terbesar di dunia. Sebelum perang, 45 juta ton ekspor Ukraina masuk ke pasar internasional tiap tahunnya. Dalam perdagangan internasional, istilah grain mengacu pada komoditas pangan yang berbentuk bulir atau biji-bijian. Gandum, padi, jagung, bijih bunga matahari adalah contoh kelompok grain. Dalam dunia pelayaran, grain termasuk jenis kargo curah kering (dry bulk). Kapal yang mengangkutnya disebut bulk carrier.

Perang Rusia-Ukraina membuat pelabuhan-pelabuhan Ukraina ditutup dan Laut Hitam menjadi berbahaya bagi pelayaran. Ekspor dari Ukraina terhenti dan berkontribusi mendorong kenaikan harga pangan dunia. Padahal, menurut PBB ada 345 juta orang di lebih dari 80 negara saat ini menghadapi kerawanan pangan yang akut. Darinya, 50 juta orang (di 45 negara) berisiko mengalami kelaparan jika tidak ada bantuan segera dari dunia internasional. PBB bersama banyak negara melakukan berbagai upaya untuk membuka jalur pasok pangan (dan pupuk) dari Ukraina.

Singkat cerita, Rusia dan Ukraina sepakat ‘berdamai’ atas nama kemanusiaan. Black Sea Grain Initiative ditandatangani pada 22 Juli 2022 di Istanbul. SOLAS Regulations XI-2/11 dan ISPS Code Part B tentang Alternative security agreements menjadi rujukan inisiatif ini. Pada 27 Juli 2022 dibentuk JCC (Joint Coordination Commitee) yang beranggotakan tiga negara di atas plus PBB. JCC bertanggung jawab mengendalikan trafik pelayaran komersil selama 120 hari, dari dan menuju tiga pelabuhan utama Ukraina: Odesa, Chornomorsk, Yuzhny/Pivdennyi, melalui rute navigasi aman di perairan Ukraina sepanjang 80 mil dan lebar 10 mil, yang disebut Koridor Maritim untuk Kemanusiaan (maritime humanitarian corridor).

Seluruh bulk carrier dari/ke Ukraina diwajibkan melewati koridor ini. Inspeksi rutin diterapkan di perairan Turki untuk memastikan kapal hanya mengangkut ekspor komoditi pangan (grain) dan pupuk dari Ukraina, serta memenuhi semua persyaratan keamanan kapal level 3 (marsec level III).

Perlu diperpanjang

Pada medio September, UNCTAD PBB mengumumkan indeks harga pangan dunia turun sebesar 14 persen dibanding Maret 2022 yang merupakan puncak tertinggi indeks harga pangan dunia.

Dua bulker, MV NEW LIBERTY (IMO 9221645) dan MV ADMIRAL (IMO 8408648) bertolak dari pelabuhan Odesa pada 17 Oktober kemarin. Di hari yang ke-78 itu, sudah 350 voyage terselenggara. Total 7.8 juta ton komoditi grain (70 persen jagung dan gandum) diangkut keluar dari Ukraina ke berbagai negara, termasuk 155 ribu ton gandum ke Indonesia di Oktober ini.

Masih ada 42 hari lagi. Mungkin masih bisa mengangkut 4 juta ton lagi hingga akhir November 2022. Angka tersebut masih kurang dari sepertiga volume ekspor grain Ukraina di masa damai. Perpanjangan misi Laut Hitam ini masih diperlukan karena belum terlihat tanda-tanda perang akan berakhir. Semoga KTT G20 Bali memperjuangkan ini. [AS]