Home Berita Keamanan Maritim Asia Tenggara 2019. ReCAAP ISC: Selat Singapura Paling Rawan

Keamanan Maritim Asia Tenggara 2019. ReCAAP ISC: Selat Singapura Paling Rawan

658
0
SHARE

JMOL. ReCAAP Information Sharing Centre (ReCAAP ISC) baru saja merilis laporan tahunan 2019 (Januari hingga Desember 2019). Laporan tersebut dirilis pada Nautical Forum ke-11 di Singapura (15/1) yang dihadiri oleh lebih dari 120 peserta dari perusahaan pelayaran, asosiasi industri, lembaga pemerintah, misi diplomatik serta lembaga akademik. Berikut catatan pentingnya.

Umum
Sepanjang tahun 2019, tercatat 82 insiden pembajakan (piracy) dan perampokan (robbery) terhadap kapal niaga di perairan Asia. Darinya, 71 berupa insiden aktual, dan 11 berupa percobaan. Angka ini merupakan yang terendah kedua sepanjang laporan RECAAP sejak tahun 2007.

Sebagai pengingat, tahun 2018 adalah tahun dengan jumlah insiden yang terendah sepanjang ReCAAP berdiri, yaitu 76 insiden, dengan 62 aktual, dan 14 percobaan.

Infografis 1 (ReCAAP 2019)

Dari aspek tingkat keseriusan insiden (severity level of incident), tahun 2019 tidak lebih buruk dibanding tahun 2018. Ada 2 insiden Kategori 1 di tahun 2019 (sama seperti 2018), insiden kategori 2 turun dari 8 ke 6 insiden. Sebanyak 69% insiden kategori 4 (pelaku tidak bersenjata, awak tidak terluka). Lihat Grafis 1.

Berdasarkan lokasi, penurunan jumlah insiden (dibanding tahun 2018) tercatat di Bangladesh (0 dari 11 di 2018), Indonesia (23/27), dan Filipina (6/9). Sementara peningkatan jumlah insiden secara drastis terjadi di Selat Singapura (31/7) dan Bandar Penawar, Johor (5/0).

Berikut catatan keamanan maritim sepanjang 2019 di perairan tertentu.

Selat Singapura
Selat Singapura masih terbilang perairan yang rawan. Dari data ReCAAP, pada tahun 2015 terjadi 99 insiden di salah satu selat tersibuk di dunia tersebut. Tahun 2016 turun menjadi hanya 2 insiden. Pada tahun 2017 tercatat 8 insiden, tahun 2018 (7), dan tahun 2019 meningkat menjadi 31 insiden.

Pada tahun 2019, dari total 31 insiden yang terjadi di Selat Singapura, 15 diantaranya terjadi di westbound lane (jalur arah barat) dari TSS Selat Singapura, dominan pada bulan Januari hingga Agustus 2019. Sementara 16 insiden terjadi di eastbound lane (jalur ke arah timur) dari akhir September hingga Desember 2019. Lihat grafis 2.

Infografis 2 (ReCAAP 2019)

Sebanyak 14 dari 15 insiden di westbound lane menyasar pada kapal Tug & Barge, dengan barang yang dicuri berupa besi tua (9 insiden). Tidak terjadi konfrontasi antara ABK (anak buah kapal) dan pelaku, dan tidak ada korban. Di eastbound lane, sebanyak 16 kapal menjadi sasaran dengan rincian: Bulk Carrier (8), tanker (4), Tug & Barge (3), dan VLCC (1). Dalam 10 insiden, tidak sempat terjadi pencurian karena pelaku melarikan diri saat alarm berbunyi. Pencurian barang terjadi dalam 6 insiden, dengan barang yang dicuri berupa suku cadang mesin, besi tua, peralatan, tali, serta barang-barang pribadi.
Dalam 10 insiden, tidak sempat terjadi pencurian karena pelaku melarikan diri saat alarm berbunyi. Pencurian barang terjadi dalam 6 insiden, dengan barang yang dicuri berupa suku cadang mesin, besi tua, peralatan, tali, serta barang-barang pribadi.

Konfrontasi antara ABK dan pelaku terjadi dalam 4 insiden. Dua ABK mengalami luka ringan (1 insiden), dan beberapa ABK diikat (3 insiden).

Khusus untuk Selat Singapura, ReCAAP ISC menyerukan kepada negara-negara pantai untuk meningkatkan pengawasan dan patroli serta meningkatkan kerjasama antar mereka. Perusahaan pelayaran disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan secara penuh, mengadopsi tindakan pencegahan, dan segera melaporkan semua insiden yang dialaminya ke negara pantai terdekat.

Laut Sulu-Sulawesi dan Perairan Sabah Timur
Insiden di Laut Sulu-Sulawesi dan Perairan Sabah Timur tercatat menurun sejak 2016. Pada 2016 terjadi 12 insiden aktual dan 6 percobaan. Pada 2017 tercatat 3 insiden aktual dan 4 percobaan, pada 2018: 2 insiden aktual dan 1 percobaan, dan pada 2019: 2 insiden aktual

Sepanjang 2019, terjadi dua insiden penculikan ABK di Laut Sulu-Celebes dan di perairan Sabah Timur (2 insiden aktual dan 1 percobaan pada 2018). Pada 8 Juni 2019, sembilan awak diculik dari dua perahu nelayan di perairan Sabah Timur, Malaysia. Semua awak dibebaskan pada 21 Juni 2019. Pada 23 September 2019, tiga awak diculik dari sebuah kapal penangkap ikan di perairan Sabah Timur, Malaysia. Dua awak dibebaskan pada 22 Desember 2019, satu awak masih tetap ditahan.

Risiko penculikan awak kapal diperkirakan masih tinggi di Laut Sulu-Sulawesi dan Perairan Sabah Timur. Perusahaan pelayaran disarankan untuk merujuk pada Pedoman Penculikan Awak yang diterbitkan ReCAAP ISC pada Juli 2019.

Bandar Penawar, Johor Malaysia
Pada tahun 2019, lima insiden terjadi terhadap kapal yang berlabuh di perairan dekat pelabuhan Bandar Penawar. Seluruh insiden berlokasi di luar wilayah pelabuhan (Outer Port Limit, OPL). Nakhoda kapal disarankan untuk melabuhkan kapal di area labuh yang sudah ditetapkan otoritas pelabuhan (designated anchorage areas) agar memperoleh pengawasan yang lebih baik.

Tentang ReCAAP
ReCAAP adalah “The Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia”. Merupakan wadah
kerjasama antar negara untuk menangani isu perompakan dan pembajakan di wilayah Asia. Sejak dibentuk pada 4 September 2006, 20 negara telah bergabung dalam ReCAAP, terdiri atas 14 negara Asia, 4 negara Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Aktivitas utama ReCAAP meliputi pertukaran informasi terkait perompakan di wilayah Asia, pelatihan upaya penanggulangan perompakan
di wilayah Asia, dan peningkatan kapasitas negara-negara
penandatangan dalam penanggulangan perompakan di wilayah Asia. [AS]