Home Berita Kasus ABK WNI di Kapal Ikan Tiongkok, Ini Penjelasan Kemenhub

Kasus ABK WNI di Kapal Ikan Tiongkok, Ini Penjelasan Kemenhub

953
1
SHARE

JMOL. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memberi penjelasan mengenai ABK PMI di kapal ikan berbendera China, yang meninggal dunia dan kemudian Jenasahnya dilarung ke laut.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh Kemlu, peristiwa melarun jenasah terjadi di bulan Desember 2019 dan Maret 2020. Saat itu pada kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604, terjadi kematian 3 awak kapal WNI saat sedang berlayar di Samudera Pasifik. Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan melarung jenazah karena kematian disebabkan penyakit menular dan hal ini berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Sudiono menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya ABK tersebut dan memastikan bahwa keluarga almarhum akan mendapatkan hak-haknya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami sudah menghubungi pihak perusahaan dan memastikan hak-hak yang bersangkutan, seperti gaji, dana duka, asuransi dan lain sebagainya dapat dipenuhi,” kata Capt. Sudiono hari ini di Jakarta (7/5).

Burial At Sea

Penanganan pelaut yang meninggal saat kapal berlayar dapat mengacu pada beberapa aturan, antara lain: ILO Seafarer’s Service Regulation; IMO resolution A.930(22): Guidelines on provision of financial security in case of abandonment of seafarers; IMO resolution A.931(22): Guidelines on shipowners’ responsibilities in respect of contractual claims for personal injury to or death of seafarers. Selain itu ada ketentuan Internasional (international medical guide for ships) maupun ketentuan Nasional (KUHD).

Di seluruh aturan tersebut menyebutkan bahwa salah satu penanganan jenazah adalah dengan melarungkan ke laut (Burial at sea). Selain itu, jika diduga jenazah berpotensi menyebarkan penyakit berbahaya bagi ABK lain, maka jenazah dapat disimpan di dalam freezer hingga tiba di pelabuhan berikutnya (jika kapal memiliki freezer), atau jenazah dapat dikremasi dan abunya diberikan kepada pihak keluarga.

“Jika tidak ada fasilitas penyimpanan yang sesuai untuk menangani jenazah di kapal dan  jenazah sakit diduga dapat menular ke ABK lainnya serta jarak dan waktu tempuh ke pelabuhan tidak memungkinkan dicapai dalam waktu singkat, maka sesuai ketentuan yang berlaku dalam ILO Seafarer’s Service Regulation, jenazah tersebut dilarung ke laut,” kata Capt. Sudiono.

Saat ini, kasus ABK WNI di kapal ikan berbendera Tiongkok tersebut sudah ditangani oleh Kementerian Luar Negeri, BP2MI, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub yang terus memonitor perkembangannya. [AF]

1 COMMENT

Comments are closed.