Home Artikel KABEL LISTRIK LAUT, Integrasi Sistem Tenaga Listrik Negara Kepulauan

KABEL LISTRIK LAUT, Integrasi Sistem Tenaga Listrik Negara Kepulauan

687
1
SHARE

JMOL. Sebuah Webinar yang digelar GATRIK UI pada bulan November 2020 lalu membahas persiapan proyek penggelaran kabel listrik bawah laut dari Tanjung Carat (Sumsel) ke Muntok (Pulau Bangka). Memantik gagasan lama utilisasi kabel laut dalam mengintegrasikan sistem kelistrikan Indonesia.

Kabel listrik bawah laut, atau disebut Kabel laut (submarine cable) adalah kabel yang digelar melalui laut, di dasar laut, menghubungkan dua daratan yang dipisahkan oleh laut atau perairan. Kabel Laut diletakkan di dasar laut atau ditanam di bawahnya.

Kabel Laut digunakan untuk menghantarkan listrik tegangan menengah 20 kV hingga extra tinggi 500 kV. Sistem transimisi yang digunakan adalah tegangan tinggi searah (High Voltage Direct Current/HVDC) ataupun bolak balik (HVAC).

Kabel Laut berbeda dengan Kabel Darat maupun Udara, dalam hal isolasi listrik (dielektrik) yang harus lebih tahan terhadap tekanan hidrodinamik dan karakteristik lingkungan dasar laut. Sehingga, pekerjaan pemasangan kabel laut memerlukan pemahaman terhadap karakteristik permukaan dasar laut, kedalaman, pergerakan arus, arus pasang surut laut, serta perkiraan pergeseran pasir dasar laut.

Penggunaan kabel laut mulai populer sejak tahun 1856 di Eropa dan Amerika. Awalnya untuk telegram, kemudian berkembang menjadi jalur telepon dan data, serta untuk transmisi tenaga listrik.

Indonesia menggunakan Kabel Laut pertama kali untuk melistriki pulau Madura pada tahun 1987 (2 sirkit 150 kV). Kemudian pulau Bali (500 kV) pada tahun 1990.

Daerah lain yang menggunakan Kabel laut yaitu: Batam – Bintan (Kepri), Tanjung Sari – Pulau Untung (Kepulauan Seribu) , Lampung – Pahawang, Lombok (Gili air, Trawangan, Meno), dan Pulau Laut – Batu Licin (Kalsel).

Seperti yang dibahas dalam Webinar di atas, tahun 2021 ini, PLN sedang memulai pemasangan Kabel Laut (XLPE-150 kV-3x3x400 mm2) dari Tanjung Carat (Sumsel) ke Muntok (Pulau Bangka) sepanjang 35.5 km yang ditanam di dasar laut. Sehingga nantinya, total panjang kabel laut terpasang di Indonesia akan mencapai 55 kilometer.

Interkoneksi Indonesia

Kabel laut sudah menjadi bagian dari sistem logistik melalui laut. Dilindungi oleh Hukum Maritim dari kerusakan akibat kegiatan pelayaran di atasnya. Seperti halnya kapal, hukum maritim juga mewajibkan pemilik kabel laut untuk mematuhi perlindungan lingkungan laut.

Penggunaan Kabel Laut memungkinkan pengintegrasian sistem kelistrikan Indonesia yang berpulau-pulau. Misalnya, saat ini pasokan batu bara dari sumbernya – kebanyakan di pulau Kalimantan- ke PLTU di pulau Jawa, Sumatera, dan pulau-pulau besar lainnya dilakukan oleh angkutan laut. Penggunaan kabel laut dapat menjadi opsi yang memungkinkan sebuah pulau tidak harus memiliki pembangkit listrik sendiri. Kita dapat memilih antara mengangkut batu bara menggunakan kapal atau mengalirkan listrik melalui kabel laut.

Interkoneksi Jawa-Madura-bali sejak tahun 1990 dibentuk oleh kabel laut. Interkoneksi Jawa-Sumatera masih taraf rencana. Kabarnya karena alasan teknis dan non teknis. Ke depan, Pulau Jawa dan Sulawesi mungkin tidak perlu lagi menambah PLTU jika sudah terbentuk interkoneksi Jawa-Kalimantan dan Sulawesi-Kalimantan. [AS]