Home Artikel Ini Alasan Pelayaran Lebih Rendah Resiko Penularan Virus Novel Corona

Ini Alasan Pelayaran Lebih Rendah Resiko Penularan Virus Novel Corona

1898
0
SHARE


JMOL. Di tengah upaya global, yang dipelopori WHO, untuk memutus penularan virus novel Corona (2019-nCoV) antar manusia, pemerintah RI menutup sementara jalur penerbangan dari dan ke mainland China. Namun tidak menutup lalu lintas barang melalui laut.

Sejak dulu, saat transportasi manusia masih menggunakan kapal laut, pelayaran menjadi media penyebaran wabah antar negara dan antar benua. Dunia pelayaran tidaklah asing dengan wabah penyakit dan karantina. Bahkan istilah karantina, adopsi dari bahasa Italia “quarantino”, berangkat dari peristiwa wabah black death yang melanda Eropa di abad ke-14. Saat itu, untuk mencegah penularan, otoritas pelabuhan memerintahkan kapal agar berlabuh jauh dari dermaga, menunggu selama “40 hari” sebelum seluruh awak dan penumpang diperbolehkan mendarat.

Sejak digantikan pesawat udara sebagai moda utama transportasi manusia (jarak jauh), resiko kapal laut sebagai media penularan relatif kecil. Resiko memang masih ada karena kapal laut masih belum tergantikan sebagai moda transportasi barang. Hampir 90 persen perpindahan barang di dunia menggunakan kapal laut.

Pun, dengan resiko yang sudah relatif kecil di atas, pelayaran beroperasi dengan prosedur keselamatan yang semakin baik. Dari berbagai sumber, Jurnal Maritim merangkum beberapa hal (yang dilakukan di pelayaran) untuk menepis kekhawatiran publik Indonesia terhadap penularan virus Corona melalui pelayaran.

Transit di beberapa pelabuhan

Pola distribusi barang di dunia sudah sangat mapan dan efisien. Terutama di angkutan peti kemas, ada model multi port, hub and spoke, transhipment. Kapal melayani beberapa pelabuhan. Di setiap pelabuhan singgah diterapkan prosedur pemeriksaan yang terkait virus novel Corona. Kapal dari China dengan tujuan akhir Jakarta singgah di 4 pelabuhan maka ia sudah menjalani 4 kali pemeriksaan.

Waktu Tempuh 8-15 Hari

Ini juga khusus untuk Indonesia. Jikapun kapal tersebut berlayar secara direct call, alias tidak singgah di pelabuhan lain, maka jarak tempuh dari pelabuhan di China ke pelabuhan di Indonesia berkisar 8 – 15 hari. Sementara waktu inkubasi virus Novel Corona menurut WHO adalah maksimal 14 hari. Virus akan mati dalam hitungan jam jika menempel pada benda mati. Ini membuat awak kapal dari China yang tiba di Indonesia secara cepat dan lebih mudah diketahui apakah terinfeksi atau tidak.

Manajemen Awak

Infomasi dari wilayah pusat epidemik di China, pergantian crew (crew changes) sangat memperhatikan tingkat kesehatan awak kapal. Tingkat kesehatan awak kapal dimonitor dan terkendali dengan baik. Termasuk kebanyakan perusahaan pelayaran kini sudah menerapkan periodical screening bagi awak kapalnya, baik yang masih di atas kapal ataupun penggantiannya.

Kapal lintas samudera international flag non-MLC (maritime labour convention) jumlah awak kapalnya berkisar 18-25 orang. Jika menerapkan MLC, jumlahnya menjadi setengahnya, berkisar 9-12/15 orang. Semakin sedikit jumlah awak, semakin mudah pengendalian dan pengawasannya.


Pelayaran Terbiasa Manajemen Krisis

Setiap kapal beroperasi mengikuti manajemen keselamatan. Awak kapalnya memiliki sertifikat, penanda mereka memiliki kualifikasi pengetahuan, keahlian, dan pengalaman tertentu. Bekerja dengan manajemen keselamatan artinya terbiasa menghadapi keadaan darurat. Tidak sulit bagi awak kapal untuk melaksanakan rekomendasi WHO, IMO, dan IMH. Termasuk mengikuti petunjuk dari otoritas pelabuhan.

Alat Bongkar Muat

Penggunaan alat bongkar muat, seperti container crane untuk bongkar muat peti kemas atau pun Grab Ship Unloader plus Hopper untuk muatan curah kering (dry bulk), telah meminimasi kontak langsung awak kapal dan petugas operator di darat. Ditambah penggunaan dokumen dan tanda tangan elektronik membuat interaksi langsung hampir tidak diperlukan lagi.

Hingga saat ini (8/2) memang belum ada laporan terjangkitnya virus novel corona pada awak kapal domestik dan internasional di Indonesia, termasuk personil yang terlibat langsung dengan kegiatan di pelabuhan nasional.

Namun demikian, pelabuhan nasional sudah diinstruksikan oleh Kemenhub untuk tetap menjalankan prosedur mitigasi seperti yang direkomendasikan IMO, WHO dan IMHO. [AF]