Home Berita Indonesia Perkenalkan ELANG HITAM, Pesawat Terbang Tanpa Awak

Indonesia Perkenalkan ELANG HITAM, Pesawat Terbang Tanpa Awak

1337
0
SHARE

JMOL. Menjelang tutup tahun, 30 Desember 2019, Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA MALE) meluncurkan (roll out) prototype Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis ‘Medium Altitude Long Endurance (MALE)’ yang mampu terbang selama 30 jam, dengan tiga misi sekaligus: Surveilance, Mapping, Defence.

PUNA MALE dibuat bertujuan untuk membantu menjaga kedaulatan NKRI dari udara, dengan sangat efisien dan mengurangi kehilangan jiwa (tanpa pilot). Kebutuhan pengawasan dari udara yang efisien terus bertambah seiring dengan meningkatnya ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, serta pencurian sumber daya alam seperti illegal logging dan illegal fishing.

Konsorsium PTTA MALE terbentuk pada tahun 2017, terdiri dari Ditjen Pothan, Litbang Hankam, BPPT, ITB, LAPAN, PT. LEN, dan PTDI. Inisiasinya dimulai oleh Balitbang Kemhan pada tahun 2015, dimana disepakati rancangan kebutuhan dan tujuan (DR&O) dari sebuah wahana yang akan dioperasikan oleh TNI khususnya TNI AU.

Proses perancangan dimulai dengan kegiatan ‘preliminary design, basic design’ dengan pembuatan dua kali model terowongan angin dan hasil ujinya di tahun 2016 dan tahun 2018 di BPPT, serta pembuatan ‘engineering document and drawing’ tahun 2017, dengan anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT.

Tahun 2019 dimulai tahap ‘manufacturing’ yang diawali oleh proses ‘design structure’, perhitungan ‘Finite Element Method’, pembuatan gambar 3D, dan detail drawing 2D yang dikerjakan oleh para insinyur BPPT dan disupervisi oleh PT Dirgantara Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan ‘tooling, molding’, cetakan dan selanjutnya fabrikasi dengan proses pre-preg dengan autoclave.

Di tahun ini juga dilakukan pengadaan ‘Flight Control System (FCS)’ yang diproduksi di Spanyol. Proses integrasi oleh para insinyur BPPT dan PT Dirgantara Indonesia yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasikan dan mengoperasikan sistem kendali tersebut.

Pada tahun 2020 akan dibuat dua (2) unit prototype berikutnya, masing-masing untuk tujuan uji terbang dan untuk uji kekuatan struktur di BPPT. Di tahun yang sama (2020), proses sertifikasi produk militer akan dimulai dan diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah memperoleh sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI (IMAA).

Integrasi sistem senjata pada prototype PUNA MALE dilakukan mulai tahun 2020 dan diproyeksikan mendapat sertifikasi mendapatkan sertifikasi tipe produk militer pada tahun 2023.

Elang Hitam

Hammam Riza, Kepala BPPT
mengatakan bahwa hari ini (30 Desember) merupakan simbol penguasaan teknologi kunci dari salah satu teknologi kedirgantaraan. Hammam Riza juga mengharapkan bahwa inovasi-inovasi teknologi pertahanan terkini terus didukung oleh industri nasional, sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri hankam dan sekaligus mengurangi impor industri hankam. Hamman yang mewakili Menristek/KaBRIN memberi nama PUNA MALE ini dengan Elang Hitam (Black Eagle).

Untuk pengembangan Elang Hitam, konsorsium telah menyusun roadmap yang terdiri dari 3 bagian besar yaitu: 1) Pengembangan Platform, 2) Pengembangan Flight Control System, serta 3) Pengembangan Weapon System.

Berdasarkan rilis Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik, Kemristek/BRIN
dan Humas BPPT, berikut spesifikasi PUNA MALE Elang Hitam yang diluncurkan hari ini:

Aircraft Dimension
Length: 8.30 m
Wing Span: 16 m

Performance Operational
Radius: 250 km (Line Of Sight)
Ceiling: 7200 m
Endurance: up to 30 hours
Payload: 300 kg

PUNA MALE Elang Hitam ini nantinya akan mengisi kebutuhan squadron TNI AU, membantu mengawasi wilayah NKRI melalui wahana udara, serta mendukung pembangunan industri hankam di Indonesia. [AS]