Home Artikel IAMSAR Manual, Panduan Internasional bagi Organisasi dan Operasi SAR

IAMSAR Manual, Panduan Internasional bagi Organisasi dan Operasi SAR

1319
1
SHARE

JMOL. Organisasi dan operasi SAR di seluruh dunia, termasuk Basarnas RI, mengacu kepada manual IAMSAR, singkatan dari “International Aeronautical and Maritime Search and Rescue”, yaitu panduan untuk organisasi dan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) maritim dan penerbangan.

‘Handbook’ IAMSAR diterbitkan bersama oleh dua badan PBB, yaitu International Civil Aviation Organization (ICAO) dan International Maritime Organization (IMO).

Bagi IMO sendiri, IAMSAR, yang diadopsi pada November 1999, merupakan revisi sekaligus pengganti IMO Merchant Ship Search and Rescue Manual (MERSAR) yang diadopsi pada 1971, dan IMO Search and Rescue Manual (IMOSAR) yang diadopsi pada 1978. Revisi tersebut kemudian diselaraskan sedekat mungkin dengan ICAO Search and Rescue Manual.

IAMSAR berisi pedoman umum Search and Rescue (SAR) di sektor pelayaran dan penerbangan. Diterbitkan secara bersama IMO dan ICAO dengan tujuan untuk memastikan terjadinya kerjasama yang efektif antara dua matra (laut dan udara) dan dapat terlaksana dalam operasi penyelamatan yang melibatkan unit organisasi dan unit penyelamat yang berbeda. 

Kerjasama yang lancar antara dua matra ini sangat penting dilakukan mengingat di banyak kejadian kecelakaan kapal laut dan pesawat terbang, operasi SAR yang dilakukan selalu melibatkan unit kapal dan unit pesawat.

Dokumen IAMSAR terdiri dari tiga volume yang dicetak terpisah, yaitu:
Jilid I. Organisasi dan Manajemen
Jilid II. Koordinasi Misi
Jilid III. Fasilitas Mobile /Mobile Facilities

Volume I, “Organisasi dan Manajemen”, ditujukan terutama untuk instansi pemerintah terkait. Membahas tentang SAR internasional, regional dan nasional, serta kerjasama antar pemerintah untuk mewujudkan operasi SAR yang efektif dan efisien.

Volume II, “Koordinasi Misi”, berisi pedoman untuk perencanaan dan pelaksanaan operasi, serta latihan penyelamatan. Volume II ini harus dibawa oleh unit penyelamat, dan seluruh pesawat dan kapal yang memiliki kapasitas dan kewajiban terlibat dalam operasi SAR. Volume II ini ditujukan untuk organisasi penyelamat dan pusat rescue nasional (JRCC, MRCC, dan ARCC).

Volume III, “Mobile Facilities”, alias “Fasilitas Bergerak”, maksudnya adalah daftar peralatan yang harus tersedia di dalam pesawat dan di atas kapal yang mampu melakukan tugas pencarian atau penyelamatan. Termasuk di kapal niaga, yang karena keadaan darurat harus melakukan operasi SAR dan berperan sebagai komando lokal.

Volume III ini menjelaskan secara rinci tentang komunikasi, organisasi dan metodologi pencarian di lapangan. Termasuk memuat pedoman evakuasi bagi pesawat atau kapal tersebut saat mengalami keadaan darurat.

Sebagai anggota IMO dan ICAO, pengorganisasian dan operasi SAR (Sistem SAR) di Indonesia diadopsi dari IAMSAR Manual, yang kemudian menjadi acuan kerja Basarnas. Baca: Sistem SAR di Indonesia

Kabarnya, IMO dan ICAO kini sedang mempertimbangkan penggunaan teknologi digital untuk operasi SAR, seperti penggunaan software ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) dan SAR drone. Bisa jadi nanti akan terbit Manual IAMSAR Volume IV atau bahkan amandemen terbaru IAMSAR. [AS]

Sumber: IMO