Home Artikel Holding Pelindo Kuasai 40 Persen Jasa Tunda, Potensi Masih Besar

Holding Pelindo Kuasai 40 Persen Jasa Tunda, Potensi Masih Besar

338
1
SHARE

JMOL. Layanan kapal tunda (towage service) menarik untuk dieksplorasi karena potensinya yang masih besar. Jasa tunda merupakan bagian kecil namun tak terelakkan dari sektor pelayaran. Pertumbuhan sub-sektor ini berbanding secara positif dengan volume perdagangan. Pertumbuhan kapal kontainer, kapal tanker, dan kapal curah akan meningkatkan permintaan harbour tug.

Merujuk definisi regulasi pelayaran, jasa tunda adalah bagian dari pemanduan yang meliputi kegiatan mendorong, menarik, menggandeng, mengawal dan membantu kapal yang berolah gerak di alur pelayaran, daerah labuh jangkar maupun kolam pelabuhan, baik untuk bertambat atau untuk melepas dari dermaga, jetty, kapal dan fasilitas tambat lainya dengan menggunakan kapal tunda sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Kegiatan penundaan menggunakan kapal tunda pelabuhan atau dikenal dengan sebutan harbour tug, yang merupakan salah tipe tug. Secara umum ada empat tipe tug, yaitu: River tug, Harbour-tug, Deep-sea/ocean-going tug, dan Anchor handling tug and supply/AHTS.

Berdasarkan laporan Global M&A Partners, per Agustus 2016 Indonesia merupakan kawasan dengan jumlah tug beroperasi terbanyak di dunia, yaitu sekitar 3.500 unit. Jumlah ini berkisar 23% armada tug sedunia yang berjumlah sekitar 15.220 unit.

Rinciannya berdasarkan data BKI (2019), sekitar 2100-2200 unit tug beroperasi melayani angkutan batubara (river tug), sekitar 700 untuk jasa tunda (harbour tug), dan sisanya lagi 600-700 unit untuk melayani offshore migas (AHTS), angkutan project cargo, salvage, dan kegiatan lainnya. Tulisan ini membahas harbour tug yang melayani jasa tunda (towage) dan umumnya beroperasi di perairan pelabuhan atau perairan wajib pandu.

1 Juta Gerakan

Seperti sudah dikemukakan di atas, ada 700 unit harbour tug yang beroperasi di Indonesia, dengan kapasitas rata-rata 3000-3300 HP.

“Holding Pelindo mengoperasikan 280 unit, menguasai sekitar 40% pangsa pasar nasional. Sebesar 60 persen atau 420 unit oleh swasta dan BUMN non pelindo. Tersebar di berbagai pelabuhan umum dan khusus”, ungkap Saut Gurning, dosen Sistem Perkapalan FTK ITS.

Dari 280 harbour tug yang dimiliki Pelindo, kontribusi terbanyak dari Pelindo III lewat Pelindo Marine Service (PMS) sebanyak 31%, Jasa Armada Indonesia (Pelindo II) 27%, Pelindo IV (24%) dan terakhir Pelindo I (18%). Semuanya kini dikelola oleh subholding Marine Equipment and Port Services.

Berdasarkan hasil kajian ITS (2019) terhadap jumlah trafik kapal di 97 unit pelabuhan di Indonesia, total gerakan yang dilayani oleh 700 unit harbour tug di atas diperkirakan mencapai 800.000 gerakan. Sementara potensi pangsa pasarnya yang ideal diperkirakan ada 1,8 juta gerakan.

“Jadi masih ada potensi 1 juta gerakan yang bisa dilayani. Namun, ada tantangan lainnya yaitu semakin bertambahnya dimensi kapal”, kata Saut.

Jumlah gerakan (inbound, outbound, dan antar terminal) dan ukuran kapal yang dilayani (GT) menjadi basis perhitungan omzet bisnis jasa tunda. Misalnya, Kajian ITS pada tahun 2019, akumulasi tonase kapal yang sandar -di 97 unit pelabuhan- diperkirakan sekitar 2,1 milyar GT. Dengan rata-rata tarif pandu berkisar Rp 400-800/GT/gerakan. Maka nilai bisnis jasa tunda pada tahun 2019 berkisar 480 – 960 miliar rupiah. Darinya, nilai bisnis jasa terhadap 1 juta gerakan diperkirakan berkisar 600 – 1,2 Triliun rupiah. Ini belum memperhitungkan pertumbuhan trafik dan dimensi kapal di tahun-tahun berikutnya.

Apa yang dapat dilakukan oleh Pelindo? Menurut Saut, ada tiga strategi yang dapat ditempuh Pelindo, khususnya oleh subholding Marine Equipment and Port Services.

Yang pertama adalah operational excellent. Tujuannya adalah meningkatkan layanan dan efisiensi biaya operasional, yang pada gilirannya membuat Pelindo mampu menurunkan tarif layanan. Turunnya tarif layanan tunda akan menekan biaya total di pelabuhan dan membuat pelabuhan lebih kompetitif.

“Untuk tarif domestik sudah cukup kompetitif, namun tarif pandu dan tunda untuk armada internasional 2,5 kali lebih mahal dibanding layanan sebanding di negara tetangga kita khususnya di Singapura dan Malaysia,” jelas Saut.

Komponen operasional Harbour tug yang dominan adalah BBM, Crew, dan biaya modal (charter rate). Menurut Saut, manajemen Pelindo perlu mencari cara yang paling jitu dalam manajemen armada.

Kedua. Menambah dan meningkatkan profil armada. Jumlah harbour tug harus ditambah agar dapat memenuhi gap 1 juta gerakan. Profil armada juga harus ditingkatkan, mengingat ukuran kapal terutama di trafik internasional, semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Idealnya dibutuhkan tug dengan kapasitas di atas 4000 HP untuk melayani kapal-kapal yang kini semakin besar,” ujar Saut.

Ketiga. Memperluas wilayah layanan hingga di jalur pelayaran internasional, seperti Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda dan Selat Lombok yang cukup besar potensinya baik jumlah armada, nilai komersial, dan sekaligus campaign kontribusi Indonesia dalam keselamatan pelayaran dunia. [AF]