Home Berita Empat Tahun Tol Laut, PELNI Angkut 40.310 Ekor Sapi

Empat Tahun Tol Laut, PELNI Angkut 40.310 Ekor Sapi

246
0
SHARE

JMOL. Program Tol Laut resmi dimulai pada 4 November 2015 di Tanjung Priok Jakarta. Waktu itu baru ada 3 trayek; yaitu Tanjung Priok – Biak, Tanjung Perak – NTT – NTB, dan Tanjung Priok – Natuna. Untuk ketiga rute tersebut, pemerintah menugaskan PT PELNI, BUMN pelayaran, sebagai operator.

“PELNI menjalankan program Tol Laut mulai dari penugasan 3 trayek di tahun 2015 yang lalu, kemudian bertambah menjadi 6 trayek di tahun-tahun berikutnya,” ujar Yahya Kuncoro, Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT PELNI (Persero)

PELNI tidak sendiri. Program Tol Laut juga melibatkan beberapa BUMN lainnya seperti ASDP, Indonesia Ferry, dan Djakarta Lloyd, serta perusahaan pelayaran swasta.

Selain menambah rute, Program Tol Laut menambah jenis muatan, salah satunya hewan ternak (livestock). Sejak 10 November 2015, pemerintah menugaskan PELNI mengoperasikan KM Camara Nusantara 1 dari Kupang, NTT menuju Tanjung Priok, Jakarta untuk mengangkut hewan (sapi). Detil rutenya adalah: Kupang-Waingapu-Tanjung Priok-Cirebon-Kupang.

Pada tahun 2017, KM Camara Nusantara 1 menuntaskan 24 voyage dengan total sapi yang diangkut sebanyak 11.812 ekor. Pada tahun 2018, pemerintah menambah 5 ujit kapal khusus ternak, satu kapal dioperasikan oleh PELNI, yaitu KM Camara Nusantara III. Sepanjang tahun tersebut, KM. Camara Nusantara I mengangkut 9.247 ekor dengan 20 voyage, sementara KM Camara Nusantara III mengangkut 4.977 ekor dalam 11 voyage.

Namun pada 2019, PELNI kembali hanya mengoperasikan satu kapal khusus ternak. Hingga akhir Oktober 2019 telah menjalani 14 voyage, dengan total hewan yang diangkut sebanyak 6.748 ekor. Sehingga total sejak 4 tahun yang lalu hari ini sudah 40.310 ekor Sapi yang diangkut PELNI dari NTT ke Jakarta. Seluruhnya didistribusikan ke wilayah Jabodetabek dan Bandung.

“Kebutuhan daging hampir terpusat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung dengan konsumsi tertinggi di Jabodetabek,” kata Yahya.

Sebagai gambaran, kebutuhan daging sapi di wilayah Jakarta sebesar 600 hingga 800 ekor per hari. Dari total kebutuhan tersebut, PD Dharmajaya – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta hanya mampu memasok 350 ekor sapi per bulan atau hanya 30% dari total kebutuhan. Sisanya harus dipasok dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan NTT, dan bahkan impor, baik itu dalam bentuk sapi hidup maupun daging beku.

Penggunaan kapal khusus ternak, yang didesain dengan memperhatikan prinsip animal welfare, bertujuan untuk menjaga kualitas hewan ternak dan menghindari peternak dari kerugian. Tingkat stres hewan menurun, kesehatannya terjaga, dan yang penting adalah penyusutan bobot ternak hanya berkisar 8-10 persen. Cukup signifikan dibanding pengangkutan menggunakan kapal cargo biasa, dimana penyusutan bobot hewan dapat mencapai 20 persen. Kapal ternak yang berlayar dengan jadwal tetap dan teratur, sehingga peternak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan hewan ternaknya. [AF]