Home Artikel Dua Bulan Jelang IMO 2020, Ini Dampaknya pada Pelayaran Dunia

Dua Bulan Jelang IMO 2020, Ini Dampaknya pada Pelayaran Dunia

320
0
SHARE

JMOL. Pemberlakuan batas atas kadar Sulfur 0.5 persen dalam BBM kapal (Bunker), atau dikenal dengan regulasi IMO 2020, membuat bisnis pelayaran global semakin tertekan. Menurut UNCTAD, badan PBB yang mengurusi perdagangan dan pembangunan, IMO 2020 menjadi ‘tantangan’ tambahan bagi bisnis pelayaran dunia yang sedang mengadapi ketidakpastian permintaan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Berikut implikasi IMO 2020 terhadap pelayaran dunia menurut UNCTAD dalam Review of Maritime Transport 2019.

Seperti sudah kita ketahui, untuk memenuhi IMO 2020 berarti pelayaran harus memilih satu dari tiga opsi yang tersedia. Yang pertama, beralih ke bahan bakar rendah sulfur (Low Sulphur Fuel Oil, LSFO), yang kadar belerang rendah (maksimal 0,5% w/w) yang harganya lebih mahal dibanding bahan bakar kadar sulfur 3,5 persen w/w yang selama ini digunakan.

Pilihan kedua adalah memasang scrubber, sistem yang menyerap sulfur dari gas buangan hasil pembakaran. Selain memerlukan tambahan investasi yang tidak murah, juga mengurangi ruang muat kapal.

Opsi ketiga, beralih ke LNG sebagai bahan bakar kapal juga memerlukan investasi tambahan serta mengurangi ruang muat kapal. Tidak ada jaminan atas kestabilan harga LNG di masa depan. Pada tahun 2040, produksi LNG dunia hanya mampu memenuhi 10 persen dari total kebutuhan bahan bakar yang dibutuhkan pelayaran global (CAI International, 2019).

Biaya Operasi dan Tarif Angkut

Manapun opsi yang dipilih oleh pelayaran, semuanya berimplikasi pada biaya. Pada segmen kapal kontainer, misalnya, total kebutuhan biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi IMO 2020 berkisar 5 hingga 10 milyar dollar AS. (Jurnal of Commerce, JOC.com, 2018c). Timbulnya biaya tersebut karena harga LSFO yang lebih mahal, atau untuk investasi scrubber atau sistem propulsi LNG.

Analisa lainnya menyebutkan, biaya pengoperasian kapal kontainer di rute Asia – Northern Europe, akan meningkat 1 hingga 2,5 juta dollar AS. (Bunker Trust, 2019; The Loadstar, 2018).

Mengganti bahan bakar kapal dari IFO 380 ke MGO (marine gas oil) pada kapal kontainer raksasa (18.500 TEU) akan menaikkan biaya bahan bakar sebesar rata-rata 50 dollar AS per TEU.(MDS Transmodal, 2019).

Seluruh biaya tambahan di atas akan dikompensasikan pada tarif angkut (freight rate). Tanpa kenaikan tarif angkut, berarti margin pihak pelayaran akan tergerus, dan berpotensi membuat bangkrut perusahaan pelayaran kecil.

Kapasitas Angkut dan Waktu Berlayar

Dampak lainnya dari IMO 2020 adalah berkurangnya kapasitas angkut dan semakin lamanya waktu berlayar (transit time).

Berkurangnya kapasitas angkut secara temporer (sementara) terjadi pada saat kapal berstatus out of service (docking) untuk pemasangan scrubber. Pada kapal Kontainer, opsi Scubber diestimasi akan mengurangi ruang muat secara temporer hingga 1,2 persen dari total kapasitas angkut.(Clarksons Research, 2019a). Dampak jangka panjang, pemasangan scrubber dan tanki LNG akan mengurangi ruang muat kapal secara permanen.

Beberapa analis menyampaikan kemungkinan operator pelayaran akan mempraktekkan “blank sailing” dan “slow steaming” untuk menghemat bahan bakar. Blank Sailing adalah teknik berlayar yang mengandalkan arus laut. Slow Steaming adalah teknik berlayar dengan kecepatan rendah. Kedua teknik ini pernah dipraktekkan oleh operator pelayaran di tahun 2000-an, saat harga bahan bakar melonjak tajam. Akibatnya waktu berlayar (transit time) bertambah. Dampak ikutannya adalah: port call berkurang dan kinerja logistik berubah. Frekuensi kunjungan kapal yang berkurang akan membuat kebutuhan inventory meningkat.

Akhirnya, 1 Januari 2020 akan tiba dalam hitungan hari. Komitmen negara-negara anggota IMO untuk menciptakan udara bumi yang lebih bersih sudah diucapkan. Bersiaplah menghadapi perubahan. [AS]