Home Berita Dampak Krisis Peti Kemas Global, Freight Ekspor Indonesia Naik Tajam

Dampak Krisis Peti Kemas Global, Freight Ekspor Indonesia Naik Tajam

600
1
SHARE

JMOL. Krisis peti kemas dunia berimbas hingga Indonesia. Kenaikan freight (ongkos angkut) peti kemas tujuan ekspor dari Indonesia semakin tidak terkendali.

Freight MLO (Main Line Operator) dari Port of Loading (POL) Tanjung Priok ke berbagai Pelabuhan Tujuan di berbagai wilayah di dunia mengalami kenaikan tajam. Dalam empat minggu ini (awal Des 2021- W2 Jan 2021), freight kontainer rute Intra Asia mengalami kenaikan rata-rata 600 persen. (Lihat tabel 1)

Sumber: Saut Gurning

Kenaikan freight tertinggi, sebesar 25 kali atau 2500 persen terjadi pada rute ekspor tujuan pelabuhan Shanghai, Shenzhen, dan Xiamen di China dan pelabuhan di Asia Timur lainnya seperti Busan dan Incheon, Korea Selatan.

Pakar Maritim dari ITS, Dr Saut Gurning, mendesak pemerintah, eksportir, operator pelayaran serta pelaku jasa logistik untuk segera menemukan solusi. Kerena kenaikan ini berdampak langsung pada kerugian eksportir dan turunnya kinerja ekspor nasional. Sejumlah eksportir mengaku merugi akibat kenaikan freight yang begitu cepat dan sering tanpa pemberitahuan. Beberapa terpaksa menunda ekspor hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.

Menurut Saut, selain alasan yang mendasar yaitu imbalance trade di jalur utama perdagangan dunia, ada tiga penyebab terjadinya kenaikan freight peti kemas ekspor, yaitu: Kendali MLO yang sangat kuat, Lemahnya operator kapal dalam negeri, dan minimnya kendali regulator.

Mayoritas MLO yang beroperasi di Indonesia telah memindahkan kapasitas jasa dan armadanya untuk melayani rute Asia – North America yang lebih menguntungkan. Mereka mengurangi kapasitas armada di rute Intra Asia.

Berbeda dengan di pelayaran domestik (antar pulau), yang walau pun kerap terjadi ketidakseimbangan peti kemas, namun tidak pernah
berimplikasi pada kenaikan tarif secara ekstrim seperti pelayaran internasional saat ini.

Menurut Saut, di rute ekspor atau internasional ada kecenderungan terjadi pengendalian harga freight peti kemas dari Indonesia. Trend kenaikan ini, bila tidak dikendalikan, paling tidak akan terus berlanjut sejak berakhirnya Imlek hingga kuartal kedua 2021.

Imbalance Trade

Sejak September 2020, pelabuhan di China dan Asia Timur mengalami kelangkaan peti kemas. Penyebabnya adalah imbalance trade di rute Asia – North America yang melintasi Samudera Pasifik. Ekspor China, yang ekonominya pulih duluan, ke Amerika jauh lebih besar dari ekspor Amerika ke China dan negara Asia lainnya. Di Amerika dan Eropa ditambah tingginya permintaan (impor) saat natal dan liburan akhir tahun.

Imbalace trade menyebabkan perbedaan ketersediaan peti kemas antar negara. Dalam kondisi normal cukup diatasi dengan melakukan reposisi peti kemas kosong (repo). Namun, di saat Pandemi COVID-19 dimana terjadi pembatasan aktivitas produksi dan logistik di negara tujuan, menyebabkan pergerakan peti kemas berjalan lambat di negara tersebut. Akumulasi imbalance trade dan pandemi COVID-19 telah menyebabkan harga freight peti kemas naik sangat tajam seperti saat ini. Ship Follow the Trade. [AF]