Home Berita Dampak IMO 2020, Tarif Angkut Kontainer Domestik Melonjak

Dampak IMO 2020, Tarif Angkut Kontainer Domestik Melonjak

2167
0
SHARE

JMOL. Era IMO 2020 sejak 1 Januari tahun ini mulai berdampak pada kenaikan tarif angkut kontainer dalam negeri. Low sulphur surcharge adalah istilah bagi kenaikan tarif angkut akibat kewajiban penggunaan bahan bakar rendah sulfur (maks 0,5 m/m).

Baca: Tahun Baru 2020, Indonesia Terapkan IMO2020

Harga bahan bakar LSFO yang lebih mahal dibanding HSFO (berkadar sulfur di atas 0,5% m/m) yang selama ini digunakan oleh pelayaran nasional, disebut sebagai penyebabnya. Berdampak secara langsung pada meningkatnya biaya operasional berlayar. Menjadi alasan bagi pihak pelayaran menaikkan tarif angkut, yang dikuti oleh forwarder.

“Saat ini kenaikan biaya (surcharge) yang diberlakukan oleh para forwarder mencapai 10-20%”, kata Sugi Purnoto, Senior Consultant di SCI (Supply Chain Indonesia), lembaga kajian logistik Indonesia.

Menurut data SCI, beberapa
perusahaan jasa freight forwarder sudah memberlakukan tarif baru pengiriman peti kemas, dengan kenaikan berkisar Rp 400 ribu per kontainer. Besaran low sulfur surcharge juga terpantau pada beberapa rute antar pulau. Misalnya untuk rute Banjarmasin, Sampit, Kumai, Lembar Lombok, dan Benoa Bali, untuk dry container berukuran 20 kaki dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 600 ribu per kontainer. Sedangkan untuk rute Bitung, Ambon, Gorontalo, Luwuk/Tangkiang, Belawan Medan, Padang, serta Kuala Tanjung sebesar Rp 1,4 juta per kontainer.

Regulasi rendah sulfur oleh IMO termasuk dalam konvensi MARPOL 78 dan populer disebut IMO 2020. Indonesia meneruskan kebijakan di dalam negeri tersebut melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut No. 35 Tahun 2019 pada 18 Oktober 2019. Surat Edaran itu mewajibkan seluruh kapal (Nasional dan Asing) yang berlayar di perairan Indonesia untuk menggunakan bahan bakar berkadar sulfur maksimal 0,5 persen m/m.

Baca: Ini Persiapan Indonesia Hadapi IMO 2020

Pertamina pada akhir Desember 2019 mengumumkan sudah bisa memproduksi LSFO, yaitu MFO 180 cSt yang berkadar sulfur 0,5 persen. Kilang Pertamina RU III Plaju akan memproduksi 380 ribu KL per tahun atau sekitar 200.000 barel per bulan.

Tidak Transparan

Sugi Purnoto menyayangkan
ketiadaan transparansi dan ruang negosiasi dari pihak pelayaran, serta belum ada penjelasan mengenai selisih harga yang diberlakukan oleh pihak forwarder.

Padahal low sulfur surcharge yang dikenakan oleh pelayaran selain memberatkan shipper, juga berdampak pada kenaikan biaya logistik nasional. Berpotensi menurunkan daya saing produk dan komoditas nasional, serta merugikan masyarakat sebagai konsumen akhir. Belum diketahui seberapa persisnya dampak Low Sulphur Surcharge ini terhadap biaya logistik nasional.

Baca: Dampak IMO 2020 terhadap Pelayaran Dunia

Namun demikian, SCI merekomendasikan perlu adanya sosialisasi dan pembahasan yang melibatkan seluruh stakeholder sehingga dapat terjadi kesepakatan tarif pengangkutan terkait dengan kebijakan IMO 2020. Pihak pelayaran dan forwarder perlu menjelaskan faktor-faktor yang mendasari penetapan biaya tambahan tersebut. [AS]