Home Berita Ada Topan Phanfone di Samudera Pasifik, Pelayaran diminta Waspada

Ada Topan Phanfone di Samudera Pasifik, Pelayaran diminta Waspada

772
0
SHARE

JMOL. Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) kembali mengingatkan para nakhoda kapal, khususnya armada angkutan laut Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru), untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrim selama pelayarannya.

Sesuai informasi cuaca yang diterbitkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per hari ini (24/12), disebutkan adanya siklon Tropis “Phanfone” 994 hPa di Samudra Pasifik timur Filipina. Phanfone berdampak pada ketinggian
gelombang di wilayah Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua yang diperkirakan mencapai 2.5 – 4.0 meter.

“Para nakhoda kapal yang melintasi perairan di atas untuk waspada dan mengantisipasinya,” kata Ahmad, Direktur Kesatuan dan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP).

Pola angin dengan kecepatan 5 – 20 knot diperkirakan di wilayah Indonesia bagian utara, dari Barat Laut – Timur Laut. Sedangkan di wilayah selatan Indonesia dari Tenggara – Barat Daya dengan kecepatan 3 – 18 Knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di Perairan Pulau Sabang, Laut Natuna Utara, dan Laut Sulawesi. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

BMKG juga menyertakan daftar resiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, yaitu: Perahu Nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m), Kapal Tongkang (16 knot dan 1.5m), Kapal Ferry (21 knot dan 2.5 m), Kapal Ukuran Besar seperti Kapal Kargo/Kapal Pesiar (27 knot dan 4.0 m).

Siaga Aparat DJPL

Direktur KPLP mengatakan pihaknya sudah menyiapkan diri menghadapi masa Nataru sekarang ini. Seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perhubungan Laut di seluruh Indonesia sudah diinstruksikan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan keselamatan pelayaran terhadap kapal-kapal yang berlayar di wilayah kerjanya masing-masing, termasuk melakukan beberapa tindakan preventif.

Selalu memantau dan menyebarkan informasi cuaca dari BMKG, hingga menunda pemberian Surat Persetujuan Berlayar (SPB) jika kondisi cuaca tidak memungkinkan. Para operator kapal khususnya nakhoda, diminta aktif memantau cuaca. Laporan cuaca enam jam terakhir harus disertakan saat mengajukan SPB.

Selama pelayaran, nakhoda harus melaporkan kondisi cuaca minimal enam jam sekali kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat dan mencatatnya dalam log book kapal.

“Bila mendadak menghadapi cuaca buruk, maka nakhoda wajib mengarahkan kapal ke perairan yang lebih aman. Kapal harus tetap dalam kondisi siap digerakkan. Posisi di perairan aman tersebut harus segera dilaporkan ke Syahbandar, Vessel Traffic Services (VTS) atau SROP terdekat,” kata Ahmad.

Yang terakhir, seluruh kapal patroli KPLP dan kapal negara Kenavigasian sudah pada posisi siaga dan siap bergerak saat menerima informasi bahaya dan atau kecelakaan kapal. [AS]