Home Berita Duka Maritim Dari Toba

Duka Maritim Dari Toba

426
0
SHARE

JMOL. Hingga Jumat kemarin (22/6), upaya pencarian KM Sinar Bangun baru menemukan 19 orang yang selamat dan 4 korban. Hari ini, Sabtu 23 Juni 2018 adalah hari keempat terhitung sejak kapal naas tersebut terbalik dan tenggelam di danau Toba.

Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas, terdiri atas pasukan khusus TNI AL dan para penyelam profesional. Dengan bantuan sonar yang diturunkan sore kemarin (22/6), diperkirakan bangkai kapal KM Sinar Bangun berada pada kedalaman 400-500 dari muka air. Kedalaman tersebut bukanlah wilayah penyelaman untuk manusia.

KM Sinar Bangun adalah kapal kayu berbobot sekitar 17 GT, dengan panjang 17 meter dan lebar 4 meter. Kapal wisata yang disebut Tuktuk biasa ditemui di danau Toba. Pada sore itu sekitar pukul 17 WIB, senin 18 Juni 2018, KM Sinar Bangun bertolak dari dermaga Simanindo di pulau Samosir menuju Dermaga Tigaras kabupaten Simalungun. Di tengah perjalanan, cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi menenggelamkan kapal.

Kapal penolong pertama tiba sekitar satu jam sesudahnya. Saat itu, 19 orang yang terapung-apung berhasil dievakuasi. Empat diantaranya meninggal dunia. Jumlah seluruh penumpang KM Sinar Bangun simpang siur karena ketiadaan manifest kapal. Data Basarnas hingga Jumat pagi (22/6) tercatat sebanyak.184 orang masih hilang.

Kepolisian setempat memperkirakan cuaca buruk dan kelebihan muatan menjadi penyebab. Redaksi mendapatkan gambar KM Sinar Bangun yang disesaki oleh penumpang. Geladak di kedua sisinya dipenuhi puluhan sepeda motor. Walau tidak diketahui kapan foto tersebut diambil, namun cukup memberi gambaran bahwa overload nampaknya sudah menjadi praktek yang lazim. Keluhan terbatasnya jumlah Life Jacket dan pelampung di kapal Tuktuk sudah lama menjadi keluhan penumpang.

Nakhoda KM Sinar Bangun diduga mengabaikan peringatan BMKG tentang akan terjadi cuaca ekstrim di danau terbesar di Asia tenggara tersebut. Pihak BMKG menyebutkan pada hari itu pihaknya menyebar peringatan hingga dua kali.

Pengamat pelayaran Saut Gurning menyebutkan ada berbagai faktor penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun. Mulai dari aspek kelaikan layar, faktor cuaca, kelebihan muatan yang menyebabkan kapal tidak stabil, kemungkinan kapal yang tidak punya sertifikat hingga awak kapal yang tidak kompeten.

Ratusan Belum Ditemukan

Danau Toba adalah danau Kaldera terbesar di dunia. Berada di tengah Sumatera Utara pada ketinggian 900 DPL. Kedalamannya bervariasi 200-505 meter.

Walau sudah dapat memperkirakan posisi bangkai kapal, Tim SAR belum melakukan upaya evakuasi dengan alasan resiko keselamatan bagi petugas SAR. Kedalaman 400 meter bukanlah kedalaman yang aman bagi penyelaman oleh manusia. Karakter dasar danau toba juga menjadi tantangan. Suhu di dasar Danau diperkirakan mencapai nol derajat Celcius. Ditumbuhi banyak vegetasi, lumpur yang tebal, arus kuat serta keruh dengan visibility yang rendah.

Diperlukan peralatan khusus untuk mengangkat kapal KM Sinar Bangun dari kedalaman 400-500 meter. Sumber JM yang ikut tergabung tim support Basarnas mengatakan bahwa cara lain yang bisa dilakukan adalah menunggu jasad korban terangkat sendiri. Namun, suhu air danau toba yang sangat dingin akan menghambat proses dekomposisi jasad. Sehingga setidaknya baru sekitar 6 hari, paska kapal karam, jasad korban akan mengapung di permukaan danau.

Dasar Danau Toba yang ditumbuhi vegetasi kelp forest bisa menjebak jasad sehingga tidak terangkat ke permukaan. Tantangan lain adalah banyak korban yang terjebak di kabin kapal. Pintu KM Sinar Bangun yang sempit diperkirakan menjadi penghambat evakuasi penumpang saat kritis berlangsung.

Pagi ini, Basarnas kabarnya akan menggunakan ROV demi memastikan posisi bangkai kapal secara akurat.

Hari ini sudah hari ke-4, merupakan batas bagi Tim SAR untuk menetapkan asumsi yang paling buruk, yaitu tidak ada lagi nyawa yang dapat diselamatkan. Artinya, proses pencarian disebut recovery, bukan lagi rescue. [Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here