Home Artikel Indonesia dan Sidang Majelis IMO 2017

Indonesia dan Sidang Majelis IMO 2017

519
1
SHARE

JMOL. Dalam beberapa hari belakangan ini, stakeholder dan media maritim ramai dengan perbincangan tentang sidang assembly International Maritime Organization (IMO), dimana Indonesia sebagai negara anggota turut menghadirinya. Tidak sekadar hadir, pada sidang IMO ke-30 yang berlangsung 27 November-6 Desember tahun ini, Indonesia juga sedang berupaya untuk terpilih kembali sebagai anggota council lembaga tersebut. Tak ayal banyak ucapan penuh doa agar Indonesia sukses terpilih kembali menjadi anggota ‘governing body’ IMO tersebut.

Di London, upaya serius dilakukan oleh delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Didukung Kedutaan RI di London Inggris, Delegasi Indonesia menggelar Indonesia’s Diplomatic Reception pada Selasa (28/11/2017). Sekretaris Jenderal IMO, Kitack Lim dan  200 orang lebih dari 172 negara menghadiri resepsi tersebut. Digelar pemutaran video pencapaian Indonesia di sektor transportasi laut, permainan angklung, pertunjukan tari Saman, dan diakhiri dengan ramah tamah. Mewakili Republik Indonesia, Menhub menyampaikan komitmen Indonesia meneruskan kerjasama yang baik dengan IMO dalam mewujudkan keselamatan pelayaran, aman, dan ramah lingkungan.

Struktur Organisasi IMO

IMO Council (Dewan IMO) adalah lembaga di bawah Asembly (Majelis). Fungsinya seperti lembaga eksekutif. Jumlah anggota Council sebanyak 40 negara, yang dipilih berdasarkan tiga kategori. Anggota dewan IMO kategori “A” terdiri dari 10 negara yang mewakili armada pelayaran niaga internasional terbesar dan sebagai penyedia angkutan laut internasional terbesar. Kategori “B” terdiri dari 10 negara yang mewakili kepentingan terbesar pada perdagangan internasional melalui laut (International Seaborne Trade). Kategori C terdiri dari 40 negara yang memiliki kepentingan khusus dalam transportasi laut atau kenavigasian, dan mencerminkan pembagian perwakilan yang adil secara geografis. Indonesia sudah menjadi anggota council sejak tahun 1979 dan selalu terpilih melalui ‘jalur’ kategori C.

Pada pemilihan anggota dewan IMO di tahun 2015 sebelumnya, ada 23 negara yang mencalonkan diri lewat kategori C. Dari total 155 suara pemilih, Singapura memperoleh suara terbanyak 145 suara. Sementara Indonesia berada di peringkat ke-9 dengan raihan 127 suara dan lolos menjadi anggota dewan IMO. Tiga negara yang tidak lolos adalah Jamaika, Arab Saudi dan Iran. Tiga negara anggota ASEAN lainnya yang lolos menjadi anggota dewan IMO adalah Malaysia (120 suara), Filipina (115 suara), dan Thailand pada posisi paling buncit dengan 112 suara.

Pada pemilihan tahun ini, belum diketahui persisnya berapa negara yang mencalonkan diri. Vietnam disebut sebagai salah satu new comer yang serius mendaftar melalui Kategori C. Dengan kuota kategori C sebanyak 20 negara, maka harus ada negara yang tereliminasi. Melihat perolehan suara pada periode lalu, Thailand yang patut khawatir. Walau bukan berarti negara lainnya, termasuk Indonesia, sudah pada posisi aman.

Memang ada usulan agar Indonesia mencoba ‘naik kelas’ dengan mengincar keanggotaan kategori A atau B. Namun usulan tersebut dinilai belum realistis mengingat doktrin poros maritim dunia yang baru seumur jagung. Selain itu, dengan kuota yang hanya 10 negara membuat tingkat persaingan pada kedua kategori tersebut lebih berat dibanding kategori C. Negara Asia yang masuk kategori A adalah China, Jepang dan Korea Selatan. Sementara pada kategori B, ada India dan Bangladesh.

China, Jepang dan Korea Selatan jelas sulit disaingi dalam waktu jangka pendek. Ketiga negara ini mendominasi industri perkapalan dunia. Terlebih China yang 6 pelabuhannya masuk dalam 10 besar yang tersibuk di dunia. India dan Bangladesh (kategori B) sejak berpuluh tahun mendominasi industri shipbreaking dunia. Di sisi lain, Singapura yang pelabuhannya merupakan hub port Asia lebih memilih ‘bertarung’ di kategori C. [AS]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here